Beranda > Belajar Ngaji, Berbagi ilmu, Parenting > Pendidikan Islam untuk Keluarga di Era Globalisasi

Pendidikan Islam untuk Keluarga di Era Globalisasi


keluarga-muslim-islam

Catatan Kajian Malam Selasa tanggal 4 Mei 2015 di Masjid Jogokaryan bersama Ustadz Dr. Adian Husaini tentang  Pendidikan Islam untuk Keluarga di Era Globalisasi.


Masalah pendidikan Islam menjadi perkara yg aktual. Inilah jantung kebangkitan Islam.

Kita masuk dalam globalisasi yg luar biasa. Kata seorang ulama dari India, belum pernah umat islam mengalami ujian iman seperti saat ini. Padahal beliau mengatakan ini di tahun 70-an. Kalau sekarang?

Jangan resah dengan datangnya gelombang-gelombang kekufuran. Satu belum selesai, muncul lagi yang lain. Bahkan yang tak bermutu pun tetap laku di sini. Aneh memang negeri antum ini.

Awalnya mengatakan Al-Qur’an tidak suci, lalu lama-lama berani menginjak lafadz Allah, lama kelamaan berani menginjak Al-Qur’an, dan seterusnya. Belum lama ini muncul tulisan, “Selamat datang di area bebas tuhan”, ataupun “Tuhan membusuk”. PKI saja yang tak beragama itu tidak sampai seperti itu.
Sekarang ini, walau jarak mungkin cuma 1 meter tapi kita tak tahu apa yg sedang dibaca/dilihat anak-anak kita.

Tahukah nanti di akhirat, masing-masing anggota keluarga akan lari menyelamatkan dirinya. Ibu meninggalkan anak, suami meninggalkan istri. Teman meninggalkan sahabatnya. Semua sibuk dengan urusan masing-masing menjalani pengadilan. Pengadilan agung di hadapan seadil-adil hakim yang takkan mungkin berlaku dholim, apalagi bisa disogok. Tak ada pembelaan, bahkan tangan dan kaki sendiri menjadi saksi.

Kasihan, banyak orang yang kurang faham. Mereka mencari-cari beban tambahan baru. Yang menjadi kewajibannya itu adalah menjaga keluarga dari neraka. Tapi yang ini belum selesai, sudah ‘pengen’ menjadi gubernur, dekan, rektor, atau presiden. Padahal permasalahan keluarga saja sudah sedemikian rumitnya.

Imam Abu Hanifah pernah diminta berkali-kali menerima jabatan yang ditawarkan Sultan ketika itu. Jawab Imam Abu Hanifah: tidak mau. Sultan tetap memaksa karena sudah sampai berjanji untuk menjadikannya salah satu petugas pemerintahan. Tetap ditolak oleh Imam Abu Hanifah. Kata beliau: Sultan lebih bisa membayar kafarat atas sumpahnya dibanding Imam Abu Hanifah sendiri yang menanggung beban tanggung jawab itu. Maka dijebloskanlah beliau ke penjara, dicambuk setiap hari. Logika yang saat ini sangat-sangat tidak masuk akal.

Di Sidogiri, Pasuruan, ada sebuah pesantren yg masih menganggap bahwa dana dari pemerintah itu syubhat. Tidak jelas, ini dana hasil pajak dari miras atau apa.

Pendidikan sekarang direduksi maknanya sebatas pendidikan formal saja, yang terbayang ialah gambaran gedung sekolah, dll. Sedangkan yang tidak sekolah dianggap tak terdidik.

Jangan terkena penyakit ‘sekolahisme’. Menganggap sama pendidikan dengan sekolah, sekaligus membatasi belajar hanya ketika menempuh pendidikan formal. Nilai dan gelar dikejar, walau kadang sampai meninggalkan keluarga.

Padahal yg diwajibkan bukan bersekolah, tapi mencari ilmu. Ilmu sendiri sudah kacau pengertiannya. Apakah ilmu itu sama dengan sains? Ataukah sama dengan knowledge?

Dalam bahasa arab sendiri ada beberapa kosakata yang berkaitan dengan pendidikan: tarbiyah, ta’lim, tazkiyah, dll. Di kitab-kitab klasik, kata yang digunakan adalah adab.

Kata adab ini sekarang hilang dari kosakata pendidikan kita. Yang ada malah karakter. Sering orang bilang: orang-orang Jepang karakternya bagus, pekerja keras, etos tinggi, dll. Setelah mendalami tentang adab, saya kira tak perlu lagi yang namanya pendidikan karakter itu.

Alkisah seorang ulama mengalami sakit perut. Bolak balik ia wudlu sampai 17 kali. Alasannya hanyalah karena dia tak mau menulis kecuali dalam keadaan sudah wudlu.

Imam Ahmad memiliki murid sekitar 5.000 orang. Hanya 500 orang yang kemudian menjadi penulis hadits. Sisanya (4.500 orang) ternyata belajar adab dan sikap dari interaksi dengan beliau.

Abdullah bin Mubarok: hampir-hampir adab itu duapertiganya agama.

Pembahasan adab bisa dibaca dalam pembukaan kitab adab dari KH Hasyim Asy’ari.

Hak anak terhadap orangtua ialah:
mendapat baiknya nama,
mendapat baiknya persusuan (pengasuhan), dan
mendapat baiknya adab.

Adab: kemampuan dan kemauan muslimin dalam memahami sesuatu sesuai dengan harkat yg ditentukan oleh Allah.

Pendidikan: proses penanaman adab berangsur-angsur sehingga mengetahui, lalu bersedia menyikapi dengan benar sesuai pengetahuan tentang adab itu tadi. Dan saat ini, pendidikan seperti itu belum bisa dikerjakan oleh pendidikan formal.Contohnya, beranikah kampus mengeluarkan mahasiswa yang tak berakhlak?

Kunci pendidikan dari Nabi saw:
1. banyaknya keteladanan,
2. seringnya pembiasaan,
3. ditegakkannya aturan.

Tahun 77, Prof. Alatas sudah mengingatkan: hilangnya adab di dunia Islam menjadi krisis umat. Adab tidak datang dari universitas maupun pengetahuan, tapi datang dari hikmah. Hanya yang diberikan hikmah oleh Allahlah yang mampu beradab.

Luqman, seseorang yang sudah diberi hikmah dan karunia Allah berupa prophetic knowledge. Nasihat Luqman, kepada anaknya:

13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
Maknanya: mengajarkan agar mencintai Allah, menempatkan-Nya pada tempat yang sepantasnya, serta tidak berlaku syirik. Lihat QS. Maryam: 88-91. Lihatlah bagaimana kemurkaan Allah, bagaimana langit hampir pecah, bagaimana bumi nyaris terbelah, bagaimana gunung seakan akan runtuh ketika manusia mengatakan Allah mempunyai anak.

14 & 15. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Maknanya: ajari bagaimana hormat dan bakti kepada orangtua.

16. (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
Maknanya: ajarkan tentang ikhsan, kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi kita.

17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Maknanya: perintahkan untuk sholat
dan beramar ma’ruf nahi munkar. Kata Imam Ghozali: jatuh-bangunnya umat Islam tergantung pada bagaimana amar maruf nahi munkarnya.

18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Maknanya: ajarkan bagaimana interaksi dengan masyarakat.

Beradab itu salah satu aspeknya adalah sopan. Namun beradab tak hanya sopan dan lemah lembut. Coba bayangkan perkataan Nabi Ibrahim kepada ayahnya, yang mengatakan bahwa ayahnya itu adalah sesat sesesat-sesatnya. sampai-sampai beliau menghancurkan patung-patung yang dijadikan sesembahan. Sehingga adab itu juga bermakna: tahu kapan harus sopan, kapan harus keras.

Nabi saw itu cinta damai. Tapi ketika diajak perang oleh musuh, dilayani. Ketika dikhianati yahudi pun, pedang yang berbicara.

Banyak yang tidak tahu, pergerakan Muhammadyah adalah konteraksi atas maraknya pemikiran-pemikiran freemason di nusantara.

Sekarang ini orang-orang pintar jarang sekali menjadikan pendidikan guru sebagai tujuan utama. Yang masuk ke pendidikan guru kebanyakan ‘sisa’ dari jurusan-jurusan favorit. Tak heran, guru-guru sekarang berkurang kualitasnya.

Guru itu menyusun kurikulum saat pembelajaran, menyesuaikan anak-anak didiknya. Bukan sekedar menerapkan kurikulum kiriman, sampaikan saja apa adanya, selesai materi lalu ujian, yang nilainya 7 ke atas disebut pintar, sisanya remidi. Bukan begitu.

Walau anak sudah disekolahkan, orangtua harus tetap mendampingi. Tanyalah apa saja yang diajarkan, apa saja yang dilakukan.

Semestinya, mahasiswa UGM itu di 1 tahun pertama belajar ulumuddin dulu.
Dilihat perkembangannya, bagaimana solatnya, nyontek atau tidak, bagaimana akhlaknya ke orangtua, setelah selesai baru masuk ke materi kuliah.

Ciri belajar: menulis dan merenungkan apa yang didapatnya. Sedangkan perumpamaan orang bodoh ialah pergi berburu, sukses mendapat buruan, lalu malah dilepaskan.

Turki, dipotong sejarahnya oleh Kemal Ataturk, dengan cara mengganti huruf arab ke huruf latin sehingga banyak manuskrip lama yang tak bisa dibaca generasi-generasi selanjutnya. Jawa pun demikian. Skrip  arab melayu sudah banyak tak terbaca, padahal itu warisan hasil karya pendahulu.

Menghafal Al-Qur’an itu penting namun bukan fardlu ‘ain. Sedangkan beradab itu fardlu ‘ain. Tak elok jika bisa hafal Al-Qur’an namun mengesampingkan tentang adab.

Kadang perlu strategi dalam mendidik anak. Contoh: ayah dan ibu bisa bergantian berlaku keras atau lembut. Karena ada kasus, terlalu kerasnya ayah, menyebabkan anak kehilangan figur ayah yang baik. Kemudian dia sangat dekat ke ibu. Sehingga perilakunya kewanita-wanitaan, padahal anak ini laki-laki. Hingga akhirnya tak sedikit yang terjerumus dalam pergaulan dengan gay.

Para sahabat itu haus ilmu, mereka bisa disebut sebagai scientific society. Belajar, belajar, dan belajar, serta tak membiarkan adanya kesalahan. Sampai-sampai ada sahabat itu yang bisa mempunyai catatatan mushaf 30 juz lengkap, atau ribuan hadits, walaupun ketika itu ditulis di sembarang tempat. namun fisiknya tetap kuat-kuat. Sehingga sampai umur kepala lima lebih pun masih sanggup turut dalam perang.

Ditulis oleh B. Ariananda, dengan sekian perubahan.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: