Beranda > Berbagi ilmu, Ilmu Manfaat > Mengajarkan Bisnis Pada Anak

Mengajarkan Bisnis Pada Anak


kid business

Resume Diskusi Internal HSMN Pusat 6
Pemateri : Teh Patra
Tema : Mengajarkan Bisnis Pada Anak

Moderator : Gina Priyadi Lisdawati
Notulen      : ‘Riri’ Anastasia Rinantauli Pasaribu


Profil Pemateri :
Yuria Pratiwhi Cleopatra, atau biasa dipanggil Teh Patra, seorang ibu 4 anak (17 tahun, 14 tahun, 13 tahun, 3 tahun) yang juga adalah pelaku Homeschooling. Latar belakang pendidikan S1 Teknik Sipil ITB dan S2 Ekonomi Syariah UI.


Materi Pembuka :
-Teh Patra-

Anak-anak saya sekarang belajar bisnis dan investasi di beberapa bidang, tentunya belum terlalu serius, masih belajar. Alhamdulillah, hasilnya bisa mereka manfaatkan untuk membeli berbagai hal yang mereka inginkan, terutama membeli hadiah ulang tahun untuk ibunya, hehehe.

Beberapa lahan investasi tempat mereka belajar adalah logam mulia, domba, bisnis sosis premium, rental mobil, jual beli barang elektronik, buku, dan lain-lain.

Alhamdulillah mereka bisa memahami susah payahnya mencari rizqi, menjadi lebih mandiri dan lebih menghargai harta titipan Allah SWT

Beberapa poin yang saya pelajari dari diskusi dengan tema serupa di grup sebelumnya antara lain :

1) Bagaimana cara mengajarkan bisnis pada anak ketika kedua orangtuanya tidak berbisnis.

Nah, ini sulit, karena bagaimanapun anak itu duplikat orang tuanya ya. Jadi kalau ingin anaknya belajar bisnis, orang tuanya perlu mempelajarinya terlebih dahulu

2) Mengapa perlu mengajarkan bisnis kepada anak-anak?

Islam memberi contoh langsung melalui risalah Rasulullah. Beliau telah berupaya hidup mandiri sejak  usia belia. Beliau mulai menggembala kambing sejak usia 7 tahun dan ikut kafilah dagang sejak usia 9 tahun.

Kita ingin agar anak-anak muslim tumbuh menjadi pribadi yang unggul. Pribadi yang unggul ini meliputi aspek fisik, intelektual, serta mental. Mengajar anak hidup mandiri sejak dini merupakan salah satu cara untuk menciptakan pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab


SESI TANYA JAWAB :
1. Anak saya masih kuliah, tapi ingin sekali bisnis walau kecil-kecilan, bapaknya belum memperbolehkan karena khawatir kuliahnya tidak fokus, salahkah sikap kami sebagai orang tua, dan bagaimana sebaiknya kami bersikap?
(Bunda Endang, ibu dari 6 orang anak)

Jawaban :
Sebetulnya, untuk anak yang sudah kuliah, yang terbaik itu adalah bisnis yang berkaitan dengan bidang kuliahnya, agar nyambung antara teori dan praktik.
Semasa kuliah, banyak juga mahasiswa yang nyambi sebagai bisnisman. Alhamdulillah kuliahnya oke🙂
Bahkan banyak kisah bisnis yang sukses diawali dari bisnis semasa kuliah.

Kekhawatiran tidak fokus itu justru jadi tantangan bagi putra-putri Bunda untuk membuktikan kematangannya. Kalau yang saya rasakan semasa kuliah, cukup waktu untuk bisa melakukan aktivitas lain di luar perkuliahan, termasuk bisnis. Atau seperti saya, menikah dan mengasuh anak..hehehe

Jika anak-anak belum mampu memanage waktu mereka, orangtua bisa berperan menjadi manajer juga, mengaturkan waktu, mengingatkan, mengevaluasi, dll. Hubungannya lebih mirip artis dan manajernya, toh kita juga bertanggung jawab untuk menjadikan mereka dewasa dan bertanggungjawab.

Tanggapan :
Bila bisnisnya tidak sesuai bidang kuliahnya, apakah perlu direalisasikan atau tidak?

Jawaban :
Bisnis itu seringkali terkait banyak faktor, terutama momentum. Adakalanya kehilangan momentum itu membuat bisnis gagal terlaksana. Dalam banyak kasus, momentum itu lebih penting dari bidang usaha, misalnya momen keripik maicih itu kan tidak ada kuliahnya membuat keripik

Jika anaknya serius, biasakan untuk membuat proposal bisnis, prospektus dan dipresentasikan kepada kita selaku orangtua. Bagaimana rencana bisnisnya, modal, model usaha, investor, pengembalian, sampai bagaimana rencana kerjanya berkaitan dengan kuliahnya.

Jika dia sudah memiliki rencana yang jelas dan masuk akal, tidak ada salahnya dicoba. Termasuk klausul MOU bagaimana jika bisnisnya tidak berjalan sesuai rencana. Beberapa bulan kemudian bisa dievaluasi, apakah sesuai dengan rencana atau tidak. Jika tidak, misalnya kuliahnya jadi keteteran, maka bisnisnya bisa ditunda dulu.

Jika bisnisnya masih belum jelas, masih wacana, mengawang-awang maka perlu difokuskan terlebih dahulu.


2. Pada point ke 1 yang sudah dibahas sebelumnya, saya menyimpulkan bisnis itu bisa dari pembiasaan si anak sehari hari. Anak saya yang sulung sedang senang-senangnya main jual-jualan. Saya ingin anak saya menjadi pengusaha tapi saya sendiri tidak begitu berbakat dan telaten dalam berbisnis. Bagaimana caranya mengajarkan anak berbisnis apabila orang tua bukan pebisnis?
(Bunda Rinan, ibu dari 2 orang anak)

Jawaban :
Pada dasarnya, mengajarkan wirausaha itu lebih pada sarana untuk mengajarkan kemandirian pada anak. Saya berusaha menanamkan pada anak-anak bahwa mereka harus bisa berusaha memenuhi kebutuhan mereka sendiri saat memasuki usia baligh.

Saat anak-anak masih kecil, kita bisa menanamkan kisah Rasulullah dan para sahabat Rasulullah yang mulia, yang begitu mandiri dan dewasa dalam usia belia.

Sejak usia balita, kita sudah mengajarkan pada mereka untuk tidak meminta bantuan akan hal-hal yang bisa mereka kerjakan sendiri. Tentunya tidak dengan saklek ya, tapi lebih ke doktrin saja. Artinya kita sering mengkomunikasikan hal tersebut.

Misalnya saat anak akan pakai celana, kita ajak mereka berusaha pakai celana sendiri sambil mengatakan bahwa mereka sudah besar, sudah pintar memakai celana sendiri. Walaupun pada praktiknya masih kita bantu. Atau ketika makan, kita biarkan mereka makan sendiri, dan kita beri mereka kata-kata positif karena bisa makan sendiri, walaupun mereka menyuap sambil kita suapi.

Sejak usia tiga tahun, anak sudah bisa belajar konsep jual beli. Kita bisa ajak mereka membeli roti, tahu, sayur atau belanja di warung. Mereka akan mengerti bahwa barang di warung bukan milik mereka dan bisa mereka miliki jika mereka menukarnya dengan uang. Saya juga pernah membawa anak balita ke pasar, walaupun merepotkan tapi mereka jadi tahu bahwa di dunia ini banyak sekali hal yang berhubungan dengan jual beli. Setelah itu biasanya kami melakukan simulasi dengan bermain dagang-dagangan dengan mainan atau makanan di rumah.

Jadi mengajar anak bisnis itu tidak berarti anak punya perusahaan dalam usia sekian saja. Tapi dia akan terlatih dan terbiasa mandiri, bisa survive di berbagai situasi dan kondisi. Tidak tergantung pada satu pekerjaan atau perusahaan tertentu saja.
Nanti, jika usianya sudah lebih besar mereka bisa mulai bisnis yang nyata. Berdasarkan pengalaman, jika sudah dimulai, bisnis itu akan berkembang seiring bertambahnya pengalaman dan jam terbang bisnisnya.


3. Anak saya tidak mau jualan lagi karena sempat membawa barang jualan ke sekolah lalu temannya bilang di sekolah kok jualan. Bagaimana mengajarkan anak agar percaya diri berjualan di sekolah?
(Bunda Triani)

Jawaban :
Betul, kadang anak tidak pede jualan kalau ada yang terlihat ‘merendahkan’. Kalau saya berangkat dari sirah Rasulullah, bahwa pedagang itu adalah profesi yang mulia. Rasul dan para sahabat adalah pedagang ulung yang jujur.

Kepada anak-anak juga selalu ditanamkan bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah (termasuk meminta kepada orang tua). Hasil usaha sendiri lebih utama dan lebih barakah

Tentunya prosesnya tidak sekaligus ya, tidak langsung seperti menyuruh anak jualan. Diawali dengan cara membangkitkan kesadaran, hingga anak akan punya inisiatif sendiri untuk memulai usaha. Jadi sejak kecil memang anak-anak sudah dilatih untuk menghargai kerja, pekerjaan dan peran ayah mereka dalam mencari nafkah. Juga tidak membiasakan anak meminta sesuatu yang bukan kebutuhannya tanpa suatu usaha terlebih dahulu.


4. Saya dan suami terjun di bidang jualan.
Saya memutuskan resign dan bekerja di rumah melalui jualan online produk saya sendiri. Jualan online sangat dekat dengan semua gadget, untuk interaksi dengan customer dan pemakaian laptop untuk optimasi web jualan saya.

Kami membiarkan anak kami untuk memainkan segala gadget dengan batasan waktu, karena mana mungkin kami melarang ketika kami pun menggunakannya untuk bekerja.

Pertanyaannya adalah:
1) Berapa batasan maksimal ideal waktu penggunaan gadget untuk anak-anak?
2) Bagaimana cara menanamkan kemandirian finansial pada anak usia 5,5 tahun? Apa aktifitas yang bisa dilakukan?
(Bunda Fivi, ibu 2 anak)

Jawaban :
Saran saya, untuk bekerja di rumah usahakan sebanyak mungkin pakai laptop atau komputer saja. Ini juga saya pake PC. Jadi saya bilang sama anak saya : Ummi lagi ngajar

Kebanyakan aplikasi bisa dijalankan di komputer. HP kalau darurat saja. Jadi pada anak-anak bisa dijelaskan bahwa Bunda sedang bekerja. Ini berbeda dengan kaburo maktan (red : mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakan) ya, hehehe.

Anak-anak perlu paham jika kita menggunakan gadget untuk bekerja, bukan untuk bermain. Kalaupun kita memberi mereka kesempatan mereka untuk menggunakannya, itu bukan karena kita merasa bersalah, tapi karena kita yakin bahwa ada hal positif yang bisa mereka dapatkan dan mereka akan bisa kita kendalikan.

Jawaban dari pertanyaan bunda Fivi :
1) Yang pernah saya baca adalah anak menggunakan gadget tidak lebih dari satu setengah jam per hari, dengan rentang waktu pendek yaitu 5-10 menit saja setiap kalinya. Mungkin satu video pendek atau satu games pendek saja. Kalau bisa dialihkan, sebaiknya dihindari penggunaan gadget oleh anak-anak.

2) Anak usia 5,5 tahun biasanya sudah bisa memahami ‘pekerjaan’ yang kita lakukan. Mereka bisa dipahamkan mengenai modal, harga pokok, harga jual, keuntungan, dst. Mereka juga bisa kita tawarkan membantu dengan sejumlah upah. Misalnya membantu memasukkan produk ke dalam kemasan dan diupah. Uangnya bisa mereka tabung atau mereka belikan barang yang mereka inginkan.

Tanggapan dari Bunda Fivi :
Saya memang membuka semua jalur komunikasi dengan customer melalui bbm, sms, WA, inbox FB, dan e-mail. Bbm ini yang belum ada aplikasinya di PC. Idealnya memang saya merekrut Customer Service, tapi belum mampu
Bagaimana mengalihkan perhatian anak-anak dari gadget? Apakah dengan memberikan aktifitas yg lebih menarik dari games android misalnya

Jawaban :
BBM di PC bisa juga kayaknya ya, saya belum pernah mencoba tapi pernah lihat suami pakai.

Anak-anak itu pada dasarnya mudah dialihkan kok, tapi ya risikonya rumah jadi kapal pecah, hehehe. Anak-anak (saya) itu suka sekali dibacakan buku, diajak main playdough, water beads, menggambar tapi ya mesti ditemenin, hehehe. Memang beda dengan gadget yang bisa ‘ngasuh’ sendiri. Kan gak seru main playdough sendiri serunya itu kalau sudah jadi, lalu bilang : “Bunda..bunda…liat aku bikin apa…bunda bisa ga bikin yang begini?”

Terkadang, Bunda yang kerja di rumah justru seringkali terasa ‘mengabaikan’ putra-putrinya. Ada sih di rumah, tapi gak bisa diganggu. Hal ini membuat anak merasa tidak berharga.

Saran saya,  Bunda yang bekerja dari rumah membuat jadwal ‘kerja’ tertentu. Jadi tidak terus menerus terbelenggu dengan komunikasi online. Misalnya satu atau dua jam di pagi hari, satu atau dua jam di sore hari, dan lebih banyak waktu di malam hari saat anak-anak sudah tidur. Biasanya transaksi online bisa menunggu beberapa jam, ttidak harus selalu langsung dibalas. Banyak juga yang malah menyampaikan pada customernya bahwa jam online/respon adalah jam sekian setiap harinya.

Tanggapan moderator
Teh Patra, agar kita semua bisa merancang jadwal kembali, kira-kira jam berapa tepatnya jadwal kerja bagi para bunda yang bekerja di rumah (pagi hari, sore hari dan malam harinya) ?

Jawaban:
Itu tergantung situasi dan kondisi di rumah saja, nyamannya jam berapa, dan itu juga dikomunikasikan dengan anak, misalnya dengan mengatakan “Bunda kerja dulu ya sampai jam sekian.”


5. Sejak usia berapa dan bagaimana cara mengenalkan anak dengan nominal uang?
Kemudian bisnis putra/i Teh Patra dimulai dari apa dan kapan?
(Bunda Heni)

Jawaban :
Anak-anak mulai berjualan sejak dulu masih sekolah di Sekolah Alam, Bandung. Di sana memang difasilitasi, ada hari jualan setiap hari Rabu.

Afra, anak saya yang kedua suka belanja ke pasar beli berbagai snack. Snacknya dia susun di kardus bekas Indomie dan dia bawa ke sekolah. Untungnya bisa sampai Rp. 20.000,- per hari. Makanya uangnya banyak, hehehe. Setelah uangnya cukup, dia belikan Logam Mulia. Alhamdulillah sudah beberapa tahun ini beliau selalu bisa qurban dengan uangnya sendiri.

Anak-anak bisa kenal nominal uang jika mereka sudah bisa berhitung. Mereka juga sering saya ajak ke warung, atau beli roti di tukang roti yang lewat, beli tahu, sayur, dll. Sejak beberapa tahun yang lalu, anak-anak mulai berinvestasi di domba. Mereka beli domba betina untuk dikembangbiakkan dan domba jantan untuk dijual saat qurban. Selain itu saya juga menawarkan mereka untuk membantu saya dalam beberapa kegiatan bisnis saya.

Anak yang paling rajin bisnis adalah anak saya yg yang kedua, perempuan. Sekarang beliau sudah mengelola bisnis sosis premium sendiri. Omsetnya lumayan, bisa sampai belasan juta per bulan. Komisinya bisa ditabung.

Anak yang lain ada yang membantu di bisnis persewaan mobil. Jadi mereka menyiapkan mobil yang akan disewa, menerima pembayaran, dll. Mereka biasanya mendapat bagian dari harga sewanya.

Anak yang pertama kadang mendapat uang dari magang sebagai programmer atau mengajar privat anak-SD dan SMP.

Kalau anak yang ketiga tertarik di bidang elektro. Kadang dia mendapat upah dari memperbaiki mainan atau alat elektronik yang rusak.


6. Alhamdulillah, anak-anak saya sudah mulai belajar investasi, yakni investasi pada usaha saya (jual beli) dengan sistem bagi hasil. Nah pertanyaannya, bagaimana langkah awal mengajarkan kepada mereka mengelola usaha sendiri? Kira-kira mulai usia berapa anak diajari untuk mengelola usaha mandiri? Melihat, bakat dagang juga sudah terlihat.
(Bunda Lisa)

 Jawaban. :
Alhamdulillah bunda Lisa, bisa terus diasah dan dikembangkan bakatnya.. Sebetulnya tidak ada waktu pasti kapan anak-anak mulai mengelola usaha sendiri. Tergantung kesiapan anaknya juga.
Anak-anak bisa dilepas jika mereka sudah paham konsep bisnis, marketing, costumer satisfaction, sudah bisa menghitung laba, rugi, prospek pengembangan, dan sudah bisa menanggung resiko.

Anak saya belajar mengelola bisnis sosis sejak kelas 1 SMP. Tapi tetap saya awasi. Kan perusahaan juga tetap ada komisarisnya Saya juga sering mengajaknya diskusi tentang berbagai hal yang terjadi, yaitu risiko barang gagal sampai, resiko kurir tidak datang, konsumen ngadat, judes, dll. Alhamdulillah, sekarang kebanyakan orderan sudah langsung berhubungan langsung dengan beliau. Kadang kalau ada yang masuk lewat inbox saya pun dijawab oleh beliau

Sejak kelas 5 SD juga mereka terbiasa bisnis secara mandiri. Misalnya kalau sore hari di lapang kan anak-anak sering bermain bola. Nah, anak-anak saya beli nutrijelly dan gula, memasak sendiri, memasukkan ke dalam plastik sendiri dan menjualnya sendiri tanpa campur tangan saya. Modal dari mereka, untung juga untuk mereka. Paling saya marah-marah aja kalau mereka lupa beres-beres


7. Teh patra kalau tidak salah informasi, transaksi jualannya tidak pakai jasa bank kan ya. Apakah anak juga diajari untuk berjualan tanpa pakai perantara bank?  Apa alasannya tidak pakai jasa bank konvensional? Apa karena memperkecil kesempatan riba kah?  dan bagaimana tips tips supaya anak-anak dan saya juga bisa mengikuti langkah teteh.
(Bunda Riri)

Jawaban :
Saya pakai bank syariah, semua transaksi sejauh ini bisa dicover oleh bank syariah, jadi tidak perlu pakai bank konvensional lagi. Saya tidak pakai bank konvensional karena sudah jelas riba.

Saya dan suami sering diskusi dengan anak-anak mengenai ekonomi Islam, ekonomi kapitalis, sosialis. Itu bagian dari pelajaran mereka di bidang sosial.


Kesimpulan :
-Teh Patra-

Mengajarkan bisnis pada anak-anak itu merupakan bagian dari rasa cinta kepada Rasulullah dan keinginan untuk meneladaninya. Sebagai muslim, kita perlu memahami bahwa kita telah menjadi mukallaf semenjak baligh. Oleh karena itu menyiapkan anak-anak untuk mampu mandiri dan bertanggung jawab terhadap kehidupan mereka sendiri setelah baligh merupakan bagian dari pendidikan anak dalam Islam.


Rasulullah Saw merupakan contoh sukses bisnis

Ingin tahu bagaimana Rasulullah berbisnis? Temukan jawabannya pada buku “Ensiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad Saw”

BEST SELLER

ELLM1

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: