Beranda > Belajar Ngaji, Berbagi ilmu, Ilmu Manfaat, Parenting > Mendeteksi Ghazwul Fikr

Mendeteksi Ghazwul Fikr


islam-vs-sekuler

Resume Diskusi Grup Admin HSMN (Homeschooling Muslim Nusantara)

Pemateri : Ust. Akmal sjafril, ST, MA
Tema : Mendeteksi Ghazwul Fikr
Moderator : Azzura admin grup 7
Notulen : Rahma admin grup 9


السلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته
Alhamdulillah segala puji bagi Allah yg telah memberi kita nikmat, rahmat dan kasih Aaamiiiinnn…..ya Allah….yaa mujiibassaailiin… nya yg begitu banybak, hingga tak mampu kita menghitungnya

Bunda2 sholcan … alhamdulillah skrg sudah hadir di tengah2 kita,
Ustadz AKMAL SJAFRIL
Yang insyaAllah pada kesempatan kali ini akan berbagi dengan kita semua

Tema yang diabgkat pada malam ini adalah “Mendeteksi Ghuzwul Fikr”

Sebelumnya mari kita berkenalan lebih lanjut dengan ust. Akmal.

Kepada ust. Kami persilahkan unk memperkenalkan diri dan memberi prolog untuk diskusi kita kali ini.
Kepada ust. dipersilahkan


Assalaamu’alaikum wr wb

Alhamdulillaah, segala puji bagi Allah SWT atas nikmat iman, Islam dan ukhuwwah ini, sehingga kita dipertemukan dlm forum kajian yg insya Allah penuh berkah ini.
Saya diminta memperkenalkan diri dulu. Nama saya sesuai akte kelahiran adalah Akmal. Tapi di dunia maya, mulai dari bikin email sampe akun facebook, harus punya lastname. Jadi saya cantumkan nama alm Papa saya sbg nama belakang. Maka banyak org kenal saya sbg Akmal Sjafril.

Saya lahir di Jakarta, 14 Juni 1981. Usia setahun pindah ke Bogor, dan sampe skrg jg masih di Bogor. Kuliah S1 di Teknik Sipil ITB, kemudian th 2007 dpt beasiswa Program Kaderisasi Ulama (PKU) dari Baznas dan DDII (bukan LDII ya) utk kuliah S2 di jur Pendidikan & Pemikiran Islam, Univ. Ibn Khaldun, Bogor. Lulus S2 th 2009.

Skrg kesibukan saya sbg penulis lepas, kontributor rubrik Ghazwul Fikri di Majalah Al-Intima’, peneliti di INSISTS, Ketua Div Litbang #IndonesiaTanpaJIL Pusat, pengajar di Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL, dan Direktur CV. Afnan Publishing. Sbg penulis, saya sdh menulis 4 buku, di antaranya “Islam Liberal 101”, dan ada 2 buku lain yg ditulis bareng2.

Oya, saya sdh berkeluarga dan sudah punya 1 orang anak laki-laki berusia 3 tahun. Perkenalannya cukup kali ya🙂.


Soal ghazwul fikri (perang pemikiran), saya biasanya menjelaskan 3 hal. Yg pertama dan kedua adalah ttg dua kata tsb, dan yg ketiga ttg hakikatnya.

1. Kata “ghazwah” artinya perang. Di sini perlu kita pahami bhw ada situasi saling menyerang. Ada yg menyerang Islam secara sistematis dan penuh perencanaan, persis spt lazimnya perang. Nah, krn itu, kita pun harus bersikap layaknya berada dlm peperangan. Apa mau diam saja? Kalau diam, maka diri dan keluarga kita akan jd korban. Tapi kalau mau melawan, tdk bisa jg serampangan. Yg namanya perang butuh perencanaan, termasuk perang pemikiran.

2. Kata kedua yaitu “fikrah” menunjukkan bhw senjata dlm perang ini bukan peluru, bom atau pedang, melainkan pengetahuan atau ilmu. Yg lebih berilmu lah yg akan jadi pemenangnya. Demikian jg target perang bukan membunuh musuh atau merebut wilayah, tapi menaklukkan akalnya. Di satu sisi, ghazwul fikri lbh gawat drpd perang biasa. Dlm perang, kita bisa mendapat kehormatan jika keluar sbg pemenang, tapi kalau kalah dan terbunuh masih bisa menjadi syuhada. Dlm ghazwul fikri, tdk ada pilihan kalah. Kalau kita kalah, kita nggak akan jd syuhada, melainkan jd bonekanya musuh. Selain itu, krn hanya yg lebih berilmu yg akan menang, maka umat Muslim jg harus mengukur diri. Apa kita sdh lebih giat belajar ketimbang musuh2 kita? Kalau belum, maka kita takkan menang, meski kita beriman dan mereka kafir.

3. Banyak yg mengira bhw ghazwul fikri adalah fenomena akhir jaman. Ini tdk benar. Ghazwul fikri senantiasa dilakukan musuh2 dakwah sejak lama, bahkan sejak jaman Adam as vs Iblis. Di QS al Hijr ayat 39, Iblis berkata kpd Allah (silakan dicek sendiri lafazh Arabnya): “Ya Rabb-ku, krn Engkau telah menetapkan aku tersesat, maka pasti akan aku JADIKAN PERBUATAN MAKSIAT NAMPAK INDAH di muka bumi, dan akan aku sesatkan mereka semuanya.” Kalimat yg saya tulis dgn huruf kapital itu menunjukkan ghazwul fikri. Jika maksiat kelihatan indah, maka yg rusak bukan mata kita, bukan pula kacamatanya, melainkan cara berpikirnya. Cara berpikir yg rusak membuat kita mengira yg baik itu buruk dan yg buruk itu baik. Inilah yg dilakukan dlm ghazwul fikri oleh musuh2 kita.

Kita perlu menengok, misalnya, ke Surah An-Naas. Di situ, Allah jelaskan bhw kerjaan syetan dr jenis jin dan manusia adalah berbisik2 ke hati manusia. Bisikan2 adalah suara2 samar yg menimbulkan perasaan tal jelas, dan was-was. Kata “was-was” dlm bhs Indonesia mmg terambil dr kata “waswaas” dlm bhs Arab. Membuat gelisah, itu kerjaan syetan.

Mau berbuat baik merasa gelisah, mau bermaksiat malah kelihatan indah. Ya itulah ghazwul fikri. Kebaikan dan keburukan mmg berlawanan. Ketika keburukan kelihatan baik, pasti kebaikan kelihatan buruk.

Contoh? Buanyaaak…! Misalnya seorang Muslimah ingin mengenakan hijab, bisa jd ia dihinggapi perasaan was-was. “Aduh apa saya sdh pantas pakai hijab?” Atau ada temannya yg nyeletuk, “jilbabi dulu hati, baru kepala”. Tanya balik aja, “jilbab kepala saya punya banyak, kalo jilbab hati dijual dimana ya?”

Seperti itu jg serangan musuh2 Islam. Kita disuruh ragu dgn Islam. Kalau tidak ragu, katanya tdk kritis. Beragama harus dgn akal, katanya, jd semua diragukan dan semua yg blm bisa dicerna oleh akal tdk usah diikuti. Maka ulama, majelis ulama, imam madzhab, semuanya harus didebat. Kalau perlu Qur’an, Nabi, bahkan Allah pun dipertanyakan. Seolah tdk ada yg pasti.

Orang2 yg sdh ‘kalah’ dlm ghazwul fikri ini, seperti yg sdh dijelaskan di atas, kemudian menjadi ragu dgn agamanya sendiri, bahkan kemudian menyerang agamanya itu. Di kalangan umat Muslim jg ada yg seperti ini, tabiatnya kita kenal sbg nifaq, sifatnya org2 munafiq. Ngakunya Muslim tp menyerang Islam terus. Menyebut diri Muslim tapi struktur Islam dibikin amburadul.
Kata “Islam”, misalnya, menurut Cak Nur bukan nama agama yg definitif lagi, melainkan bermakna “pasrah”. Jadi, apa pun agamanya, asal pasrah ya Muslim juga namanya. Ini contoh pengrusakan makna Islam.

Lalu ada yg mencoba merusak makna “iman”. Dia bilang, “Saya beriman kpd Allah tanpa rasa takut.” Padahal Allah yg menyuruh supaya dia takut. Ada jg yg bilang dia beriman pd Allah tp tdk takut neraka. Di awal surah Al-Baqarah, justru Allah yg menyuruh manusia utk takut kpd neraka. Jadi, iman tanpa rasa takut itu absurd.

Lalu ada lagi yg bilang shalat itu yg penting berhubungan langsung dgn Allah, jadi gak mesti lima waktu dan dgn gerakan2 tertentu. Padahal Nabi saw menyuruh kita shalat sebagaimana beliau shalat.

Ulil Abshar Abdalla malah nggak tanggung2 lagi. Dia bilang, kisah diazabnya kaum Nabi Nuh as itu absurd. Kok bisa satu kaum diazab hanya krn tdk beriman kpd Nabi Nuh as? Apa Tuhan tidak berlebihan? Begitulah pemikiran org yg sudah bangga dgn keraguannya thd agamanya sendiri.
Pada titik paling parahnya, seorang Muslim bisa jadi memproklamirkan bhw Islam bukan agama satu2nya yg benar, bahkan dia berani katakan bahwa semua agama itu benar. Yg kayak begini sdh kehilangan pegangan dan kebanggaan sbg Muslim, tdk lagi bisa membedakan yg haq dan yg bathil, kekufuran dan keimanan.

Nah, utk mendeteksi ghazwul fikri, ujung2nya balik ke ilmu. Yg jadi mangsa dlm ghazwul fikri adalah yg ilmunya lemah. Di sini patokannya ilmu, bukan amal. Dlm sejarah kita menyaksikan ada kaum Khawarij yg amal ibadahnya bagus, tp pemahamannya salah. Mereka mudah menumpahkan darah sesama Muslim akibat kebodohannya. Jadi ketahanan kita membendung ghazwul fikri ditentukan oleh pemahaman kita thd konsep2 dlm agama Islam.

Maka utk membendung serangan ini, tinggalkanlah sikap ignorant kita, ketidakmautahuan kita. Tidak cukup menyelamatkan diri sendiri, tapi jg harus selamatkan keluarga. Itu pun tdk cukup, krn anak2 kita pasti berinteraksi dgn lingkungan di luar keluarga. Oleh krn itu, kita wajib juga mewujudkan lingkungan yg Islami. Dan utk itu semua, perlu BEKAL ILMU.

Problem kita skrg adalah jauhnya umat Muslim dari ilmu. Banyak yg sudah tdk cinta ilmu, sehingga utk mengikuti kajian yg bermanfaat maunya gratisan terus, tapi kalau utk makan junk food duitnya nggak habis-habis. Padahal junk food itu racun, ilmu itu kebaikan.

Berapa banyak buku yg kita khatamkan dlm sebulan? Itu jg bisa jadi ukuran sederhana. Nggak bisa kita begitu saja kalahkan Amerika, Israel dll kalau mereka lbh rajin belajar daripada kita.
Musuh2 Islam sangat bersungguh2 menyerang Islam. Mereka mempelajari Islam utk menghancurkannya. Kata ust Adian Husaini, “Mereka mau masuk neraka aja usahanya hebat. Masak kita yg pengen masuk surga usahanya setengah2?”

Saya cukupkan sampai di sini dulu. Selain pegel ngetik, juga supaya bisa diperbanyak diskusinya.


SESI TANYA JAWAB

1. Bagaimana kita bs memahami tahapan2 ghozwul fikri sepanjang sejarah umat islam dan bgmn kaitan dg kondisi umat yg ada sekarang sehubungan dg rancangan ghazwul fikri tersebut.

Jawaban:

Agak susah menjawabnya karena perlu diperjelas maksud “tahapan” ini apa? Kalau konteks sejarah, ghazwul fikri sudah sejak jaman Nabi Adam as dan masih berlangsung terus. Setiap yg memusuhi Islam pasti melakukan ghazwul fikri. Tahapannya bisa macam2.

Tapi secara general, ghazwul fikri pasti dilakukan secara perlahan dan bertahap. Kita, misalnya, tdk serta-merta diajak utk membenarkan homoseksualitas. Tapi di TV, sejak awal 2000-an sdh biasa kita lihat presenter laki2 yg kemayu. Lama kelamaan kita jadi terbiasa melihat laki2 yg feminin.
Kita jg tdk diajak meninggalkan shalat, tp bisa diajak shalat tdk di awal waktu, meninggalkan shalat berjamaah dll. Lama2 kita terbiasa meremehkan shalat, dan bisa2 suatu hari benar2 nggak shalat lagi.
Kondisi umat skrg, mnrt saya, memperlihatkan polarisasi yg makin jelas. Makin kelihatan jelas siapa yg hatinya tergugah utk kembali ke Islam, tapi makin kelihatan jelas pula orang2 yg menjauh dari Islam. Dan di akhir jaman memang polarisasi ini akan semakin gamblang. Jadi tdk usah pesimis. Tahun 80-90an kan susah kita temui siswi berjilbab. Kalo skrg, yg berhijab syar’i makin menjamur. Tapi yg pamer aurat jg banyak. Itulah polarisasi.


2. Assalamualaikum ustadz, saya mau bertanya bagaimana caranya merubah cara pikir org2 terdekat kita yg sudah mengarah ke sekulerisme dan pluralisme? jazakallah ustadz

Jawaban:

Pertama, kita harus ingat bhw hidayah adalah rahasia Allah. Kita wajib bersemangat dakwah, tp jgn berpikir ada cara cespleng yg pasti bisa meluruskan org. Orang2 kayak Ulil tadi adalah jebolan pesantren dan pernah kuliah di LIPIA. Kalau mau taubat, dia sudah tahu jalannya. Tapi ya dia memilih jalan kesesatan, mau digimanain lagi? Kata Nabi saw, “Idzaa lam tastahiy, fashna’ maa syi’ta”. Barangsiapa yg tdk lagi merasa malu, perbuatlah semaumu! Utk tipe yg begini, memang tantangan dakwahnya berat.

Kedua, sblm mendakwahi, harus ada strateginya. Kita harus tau dulu latar belakang pemikirannya. Knp sih dia jadi sekuler gitu? Banyak lho yg ikut2an cuma krn uang. Ada jg yg ikut2an karena kecewa pada dakwah atau da’i-nya. Jika akar masalahnya tdk dibereskan, ya dia takkan berubah.
Kita jg harus bisa menanggapi dgn kepala dingin. Knp dia jd sekuler? Bacaan apa yg bikin dia begitu? Makanya, rujukan kita jg harus banyak. Kalau tidak, dia akan anggap kita ini fanatik saja dan tak berilmu. Dan dia merasa dia sekuler krn kritis dsb.

Kalau bekal ilmunya blm cukup, blm tahu latar blkg masalahnya dsb, saya tdk anjurkan debat. Seringnya, debat cuma mengeraskan hati. Banyak yg terpengaruh liberalisme dlm dosis ringan, bisa sembuh hanya dgn kita dekati saja. Mereka cuma butuh teman baik. Kalau kita dekati, tanpa dinasihati pun lama2 dia mengikuti kebaikan kita. Ini bahasan fiqih dakwah ya.


3. Ust. Masalah perang pemikiran ini kan bener2 masalah besar yang kita hadapi sekarang.
Saya kan masih mahasiswa, saya dan tmn2 mencoba mendirikan organisasi ttg pemikiran. Bahkan kami membuat seminar gabungg pemikiran. Bahkan kami membuat seminar gabungan dari beberpa univ. Dan sudah pasti org2 yang tergabung di organisasi ini adalah orang2 yang sadar dengan perang besar ini.

Tapi kan saya juga punya adik2 tingkat yang lain, yang belum terarahkan. Bahkan bacaan mereka luar biasa bikin saya shock, salah satu nya “Sejarah Tuhan”

Nah bagaimana caranya kita masuk k mereka?
Apakah kita harus pilih beberpa org yang mungkin bisa kita arahkan, agar bisa nantinya mereka mewarnai yang lain.

Atau bagaimana ust?
Mahasiswa itu kan rada susah untuk di arahkan….

Jawaban:

Jangan salahkan bacaan, karena justru dlm ghazwul fikri ini kita mutlak perlu memperbanyak bacaan. Jadi kalau mereka baca “Sejarah Tuhan” ya kita ikut baca jg gpp. Lalu dengarkan diskusi mrk soal buku itu. Ikutan nimbrung menyampaikan pendapat kita, kan gak ada yg melarang. Justru dgn menjauh dari bacaan2 itulah makanya para aktivis dakwah sering dicap tidak kritis.

Yg masalah kan kita tdk menempatkan buku2 tsb dlm posisi yg benar. Ada jg yg nanya ke saya soal Tuhan dgn bekal buku “Sejarah Tuhan”-nya Karen Armstrong itu. Kata dia, Karen Armstrong emang kafir tp dia baik. Saya tanya balik, “Baik sih baik, tp apa dia lebih kenal Tuhan drpd kita? Kalo benar dia kenal Tuhan, kenapa dia tetap kafir?” Dengan pertanyaan begini akhirnya dia sadar kesalahannya. Bukunya boleh dibaca dlm rangka mengetahui pendapat Armstrong soal Tuhan, tapi BUKAN utk mengenal Tuhan itu sendiri. Soal ma’rifatullaah, kita gak perlu belajar dari org kafir.
Dalilnya simpel. Kpd org2 kafir, kita berseru, “Laa a’budu maa ta’buduun”. Aku tidak menyembah apa yg kamu sembah. 3 ayat berikutnya jg menegaskan hal tsb. Yg kita sembah beda. Kenapa kita bertanya soal Tuhan kpd org kafir? Apa sdh tdk beriman lg pd Surah Al-Kaafiruun?

Tanggapan:

Jadi waktu diskusi ttg bacaan itu, di klasikal kan ajah?
Langsung untuk semuanya?
Atau buat yg udah baca ajah?
Saya kan bergerak dlm organisasi penelitian dan kpnulisan, jadi banyak juga yg masih awam.

Jawaban:
Kalo yg baca baru sedikit ya gak usah semua diajak baca. Prinsipnya, masalah kecil jgn dibesar2kan, ntar jd besar beneran. Tp kalo emang udah banyak yg baca ya sekalian aja bikin bedah buku. Panggil ahlinya, suruh jd narsum.

Ya keawaman ini musuh kita. Makanya kita bikin kajian2 serius supaya pada pensiun jd org awam. Masak udah dewasa masih awam2 aja soal agama hehe.


4. ini tentang debat ustadz, bagaimana caranya menghentikan debat yg tidak berkesudahan dan sm2 keukeuh 1 sama lain dgn pendapatnya..ini misal anak dgn ibunya..kadang anak merasa yg dilakukan itu benar pdahal salah menurut ibunya..

Jawaban:

Kalau konteksnya anak dgn ortu, bagusnya tdk usah berdebat. Kalau kita sbg anak, jaga adab dgn ortu. Kalau keinginan ortu bisa dipenuhi ya penuhi sajalah walaupun tdk sreg. Tapi kalau benar2 tidak baik maka jgn turuti, tapi tetap menjaga adab dan jgn berdebat.

Kalau kita sbg ortu, mendebat anak jg blm tentu opsi terbaik. Masalah pd anak, terutama remaja, bukan diawali dari beda pendapat dgn ortu, melainkan dari hilangnya kedekatan dgn ortu. Mungkin pas dia curhat kita malas dengarkan krn sibuk, lama2 dia nggak mau curhat lagi. Dan kalo ortu nggak menanggapi, ya mereka curhat ke yang lain. Kalo sering nggak ditanggapi, akhirnya semua masalah dibawa ke tempat lain. Kalo sdh begitu ya pasti debat gak akan ada habisnya.

Ini jg pintu ghazwul fikri. Banyak org terseret pemikiran aneh2 di kampusnya pdhal ortunya baik2, bahkan ulama. Tp karena tdk dekat dgn ortu, atau malah memendam kekecewaan pada ortu, maka mereka mudah terombang-ambing.

Jadi, kalau debat dgn anak gak henti2, coba selidiki masalah kedekatan kita dgn dia. Jangan2 masalahnya bukan pada isi debatnya itu.


5. Pak ustazd …sebagai emak emak seperti sy yg kurang pengetahuan…harus mulai dari ilmu atau mempelajari apa dulu….untuk menambah pengetahuan sy

Jawaban:

Pada dasarnya belajar itu dari guru, sedangkan buku adalah alat bantu. Jadi jgn belajar hanya dari buku. Coba cari orang2 shalih yg bisa kita jadikan acuan. Ikuti majelis2 ilmunya, sering2 berinteraksi kepadanya.

Persoalannya begini. Kalau ditanya harus mulai dari mana, ya jawabannya bisa macem2, dan tidak mesti sequential. Misalnya saya jawab, “luruskan aqidah itu yg paling utama.” Lalu kita belajar aqidaaaaah melulu, sedangkan tata cara shalat, shaum dll malah terbengkalai. Kan nggak bener jg. Semuanya dipelajari sambil jalan. Tdk perlu menunggu sempurna di satu bab baru masuk ke bab lainnya. Natural saja.
Tapi kita butuh org lain sbg acuan. Mereka bisa jd teladan dan tempat bertanya. Gak mungkin kita kuasai ilmu macem2 dlm semalam. Tapi selama kita mengikuti org2 shalih yg lebih berilmu, itu lebih aman. Kalau kita banyak membaca saja, bisa2 kita ikuti bacaan yg salah.

Nah mencari guru jg bagian dari adab keilmuan. Yg jelas patokan pentingnya adalah menemukan guru yg konsisten antara ucapan dan perbuatannya. Jgn cuma terpukau dgn penampilan ‘ustadz’ di atas panggung saja, tapi lihat kesehariannya. Kalau ngaku ustadz tapi bergaul dekat sama artis2 seronok, tinggalin aja! Kalau ngaku ustadz tapi ada tarifnya, tinggalin aja! Kalau ngaku ustadz tapi shalatnya nggak telaten, tinggalin aja!

Insya Allah masih banyak org shalih yg bisa kita jadikan acuan.


6.1 Ustadz, bagaimana cara membentengi anak dr ghazwul fikri? Krn saat ini serangan ny merajalela,, terutama dr box ajaib ( baca:TV)
6.2 Usaha apa yg bs kita lakukan u melindungi anak2 kita dari ghazwul fikri

Jawaban:

Saya satukan karna sejalan
Melindungi mrk dari ghazwul fikri bukan dgn menjadikan mereka steril. Justru banyak yg jd korban ghazwul fikri krn semasa kecilnya jauh dari media. Begitu lihat dunia luar, rusak deh. Cultural shock, istilahnya.
Solusinya ya mrk harus diberi ‘antibodinya’, alias pemahaman yg bener. Modal pertama ortu ya kedekatan tadi itu. Kedua, keteladanan. Nggak bisa kita nyuruh anak rajin shalat kalo kita sendiri gak keliatan shalat.

Yg namanya anak2 sesekali bandel lah. Kita jg dulu gitu kan. Tapi selama kita lihat ortu kita konsisten dgn nilai2 yg dianggap benar, maka anak jg akan mengikuti arah yg sama. Kalaupun bandel paling nyoba2 aja, abis itu kembali ke jalan yg bener. Banyak org hidupnya semrawut, ibadahnya rusak pas kuliah, tapi pas udh punya anak insyaf lagi.


7.1 Bagaimana muslim menyikapi sains & modernitas?
7.2 Di SPI apa saja yang dipelajari?

Jawaban:

Sains itu salah satu alat utk mengenal Allah, krn kita mengenal kebesaran Allah melalui alam semesta. Kalau mau jd Muslim saja, baca syahadatain sdh cukup. Tapi kalau mau jd ulil albab, menurut Ali Imran 190-191, ya harus mengamati alam. Itu kan sains.

Ada masa2nya dlm sejarah ketika Islam menguasai sains. Panjang ceritanya, tapi cukup saya ceritakan ttg Maryam al-Ijliya. Beliau adalah Muslimah yg menemukan alat Astrolabe. Alat ini mengukur pergerakn bintang dan berfungsi spt GPS di jaman skrg. Dia wafat di usia 21 thn.

Ini gambaran betapa Islam tdk punya masalah dgn sains. Bahkan Maryam al-Ijliya yg seorang perempuan tdk terhalang utk menjadi saintis di usia sangat belia.

“Modern” itu cuma istilah yg menggambarkan “kebaruan”. Yg disebut modern di abad 19 ya nggak modern lagi di abad 21. Ini cuma soal perguliran sejarah, dan Islam gak punya masalah dgn sejarah. Islam jg gak punya masalah dgn perubahan gaya hidup. Mau hidup di gubuk atau di apartemen, doa keluar rumah ya sama saja, adab masuk rumah ya sama juga. Aturan2 Islam sudah Allah desain sehingga tdk menyulitkan manusia di jaman apa pun ia hidup.

Di SPI, singkatnya, ada 12 kuliah yg temanya sbb:

1. Ghazwul Fikri
2. Islamic Worldview
3. Tauhidullaah
4. Konsep Diin
5. Konsep Wahyu & Kenabian
6. Sekularisme
7. Nativisasi
8. Pluralisme Agama
9. Mengenal Syi’ah
10. Konsep Gender
11. Mengenal Filsafat
12. The Golden Age of Islam

Nah materi ke-12 itu yg membahas kejayaan sains umat Muslim di masa lampau


8. bagaimana cara menanggapi teman yg pny pendapat klo hubungan dg tuhan itu sifatnya pribadi. orang lain gak perlu ikut campur.
Jawaban ini diberikan saat ada yg menasehati dia utk berhijab n shalat d awal waktu. temen saya ini dari keluarga yg kejawen.

Jawaban:

Absurd kalau dikatakan bhw agama adalah urusan masing2. Di Jakarta lg heboh karena Gubernurnya bilang bir itu nggak salah apa2. Apa kita mau bilang, “terserah mau minum bir, yg penting kita nggak”? Kalau begitu, apa istimewanya manusia? Padahal kita mikirin anak2 kita. Kalau anak2 kita sekarang aman dari miras, bisa jadi teman2nya nggak. Kalau teman2nya sdh minum miras, besok2 anak kita diajak juga. Apa urusan anak kita akan kita anggap ‘urusan masing2’ juga?

Nah tp kalo ditanya bgmn menanggapinya, itu soal lain lagi hehe. Soal hijab kadang sensitif bwt perempuan, dan bertanya “kapan mau berjilbab?” pada yg belum berhijab bisa jd bumerang kalau cara dan timingnya salah. Sama prinsipnya dgn yg tadi, harus diselidiki dulu akar masalah dia di mana. Kalo blm ketemu akarnya, susah. Kalo kita cecar terus, nanti dia malah jadi defensif.


9. Emmm…
‘Jilbab itu kultur orang Arab, bukan org Islam’
‘Nabi itu ga semua laki2. Wanita juga ada yg jadi nabi seperti maryam.’Ustadz akmal, ini pemikiran liberal kah?

Jawaban:

Jelas liberal. Ketika perintah berjilbab turun, banyak yg lari mencari kain utk menutupi kepalanya. Artinya, saat itu banyk yg tdk berjilbab, padahal mrk org Arab. Soal Nabi laki2, sepanjng pengetahuan kita memang semuanya laki2. Maryam tdk disebut Nabi. Mmg di Qur’an disebutkan bhw Maryam menerima “wahy”, tp kata ini bkn hanya berarti wahyu, sebab dlm Qur’an, lebah jg disebut mendapat “wahy”. Yg terjadi pada Maryam adalah ilham, dan ini memang salah satu makna “wahy”.


10. Apabila kita menggetahui sso terindikasi oleh salah satu aliran sesat dimana sso ini merupakan public figur dan founder salah satu komunitas parenting yg dikenal masyarakat luas.
Apa yang sebaiknya kita lakukan ustadz,saat kita tahu dan banyak teman2/saudara2 kita yg tdk tahu akan hal ini?? Apa diam saja?mundur diam2 atau ttp berada dalam komunitas tersebut??

Jawaban:

Ukur kemampuan. Kalau tdk bisa menyampaikan argumen, cari yg bisa. Utamakan menyelamatkan teman2 yg awam, bukan berdebat dgn yg jelas2 tersesat. Debat bukan prioritas.

Adapun kita, sebaiknya mundur dr komunitas itu. Kecuali kalo yg sesat cuma oknum saja.


11. Bagaimana dengan politis adu domba umat yang sedang terjadi saat ini? Dengan adanya penyusup2 yang mengaku suatu golongan dan berlaku sesuatu yang malah merugikan golongan itu sendiri.. sedangkan kita khalayak umum percaya begitu saja pada perilaku penyusup tersebut..

Jawaban:

Hehe ya itulah sebabnya harus banyak stok ilmu. Prinsipnya semua kata2 org tdk boleh ditelan bulat2, termasuk kata2 saya jg. Jgn polos sehingga mudah dikibulin. Ingat, Nabi Adam as ditegur Allah, meskipun beliau ditipu Iblis. Beliau gak beralasan, “ya Allah, kan saya cuma ngikut aja”. Makanya kita semua harus waspada dlm segala hal.

pertanyaan lanjutannya:

Menyikapi khalayak yang sudah terlanjur percaya dengan hal tsb gmn kang ustadz?

Jawaban:

Sebisa mungkin kita bantu dinginkan situasi lah. Susah dirumuskan caranya, yg penting umat kita ini jgn sibuk berantem aja. Sebab skrg yg menikmati hasil dari berantemnya kita kan ya musuh2 Islam jg. Jadi damaikanlah sesama Muslim, walau pendapatnya gak bisa disatukan.


12. Assalamu’alaikum warohmatulloh wa barokaatuh ya ustadz…. Ghazwul Fiqr ini nampak biasa bagi yg biasa…dan nampak luar biasa bg ‘yg luar biasa’ di mata Alloh… Salah satunya orng2 yg ‘nampak’ berilmu…beragama…namun mudah ‘abai’ pun ‘lalai’ pd ‘rencana uji coba’ makar2 musuh2 Islam…. hingga org2 yg ‘nampak’ berilmu..beragama ini mnjd ‘bagian proyek musuh2 Islam’…. ex: syiah… Ada apa dng ini semua ustadz?? Bgmn aqidah mreka? Tak cukupkah ‘daya’ ilmu mereka tuk lbih kuat… tuk lbih ‘luar biasa’ di mata Alloh?? Sungguh…sedihnya bg orng awam yg terbiasa mnganggap orng2 yg ‘nampak’ berilmu beragama ini ttap mnjd panutan…. Namun ‘bobrok dayanya’….
Mohon pencerahannya ustadz… Jazakalloh khoir….

Jawaban:

Normalnya, manusia dikendalikan oleh akalnya. Kata “‘aql” itu artinya tali kekang. Selama kita dikendalikan akal, aman deh. Masalahnya, nggak selalu seperti itu. Adakalanya hawa nafsu yg pegang kendali.

Ada org cerdas tp lemah dgn fitnah dunia. Banyak yg ikutan Islam liberal cuma krn uang aja. Masalahnya dulu mrk faqir, maka disodori duit ya terjuallah aqidahnya. Makanya kita diajari doa “Allaahumma innii a’uudzubika minal kufri wal faqr.” Ya Allaah, aku berlindung kepadamu dari KEKUFURAN dan KEFAQIRAN. Krn kalau sdh faqir, mudah digoda utk jd kafir.


13. klo kita bermaksud mengajak seseorang non muslim utk memeluk islam, urutan pemikiran yg bagaimana yg hrs dibicarakan spy orng ini tdk antipati dulu thdp islam. ingin mengajak papa saya memeluk islam, papa saya kristen.

Jawaban:

Nabi saw sdh disebut Al-Amin sblm beliau menjadi Nabi. Al-Amin itu org yg terpercaya, yg amanah, yg menimbulkan perasaan aman kpd org lain. Menurut saya, ini basic-nya dakwah. Kita harus jd org yg dipercaya dan menimbulkan perasaan aman. Kalau beliau antipati pd Islam, mungkin krn ada Muslim yg sifatnya bikin beliau antipati. Nah perasaan antipati itulah yg harus kita balikkan. Tunjukkan bhw dgn menjadi Muslim kita bisa menjadi org yg lbh baik, anak yg lebih berbakti, dst.


14. Kl pengajian dlm rangka peringatan meninggalnya seseorg itu kan bid’ah. Lalu ada sebagian org yg tetap melakukannya tp dgn alasan bukan u memperingati tp u silaturahmi. Apakah yg demikian jg disebut ghawzul fikri?

Jawaban:

Ya ini bagian dr dakwah jg. Keslahpahaman sekian generasi gak bisa kita luruskan secara instan. Coba saja pengajiannya kita ‘warnai’ sehingga benar2 jd ajang silaturrahim dan mendoakan org yg meninggal itu. Prinsipnya, mendoakan org yg sdh meninggal kan bagus. Pelan2 pemahamannya diluruskan, bid’ah2nya dibuang. Tapi memang nggak bisa instan.


Closing statement:
Problem terbesar umat ini adalah ilmu. Kita kehilangan tradisi ilmu kita, maka banyak yg tersesat. Kalau berilmu, walau tetap beda pendapat, nggak akan jd berantem. Mudah2an bermanfaat, mohon maaf kalau ada kesalahan.

Wassalaamu’alaikum wr wb.
Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.


Wah RUAR biasa, diskusi kita malam ini.
Saya selaku moderator mohon maaf atas kesilafan dan kesalahan saya.

Saya juga minta maaf atas beberapa pertanyaan yang tak sempat d ajukan

Makasi banget ust. sudah mau berbagi dg kami dan mau di perpanjang waktu diskusinya hampir setengah jam.

Baik2 bunda2 sholcan, kita tutup dg bacaan hamdalah
Doa kifaratul majelis.

Saya akhiri
Wassalamu’alikum warah matullahi wa barakaatuh.


ensiklopedia peradaban islam

Ensiklopedia Peradaban Islam

MENGUPAS FAKTA-FAKTA SEJARAH DAN KEJAYAAN ISLAM DI SEANTARO DUNIA

(klik pada gambar untuk lihat isi buku)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: