Beranda > Berbagi ilmu, Parenting > Mendesain Anak Untuk Kehidupan Islami

Mendesain Anak Untuk Kehidupan Islami


muslim-kids-indonesia

Diskusi Home Schooling Muslim Nusantara wilayah Bekasi

Pemateri: Ust. Nopriadi

Tema: Mendesain anak untuk kehidupan islami


Assalamu’alaikumwrwb.

Ayah Bunda yang cerdas,

Perkenalkan nama saya Nopriadi. Saya ayah dari 3 anak yang berprofesi sebagai dosen (di Teknik Fisika, UGM) serta penulis buku The MODEL (buku pengembangan diri spritual ideologis).

Saya memilki 3 orang anak. Anak pertama 14 tahun home schooling. Yang kedua usia 13 tahun sekolah di SMP Negeri dan yang ketiga adalah 10 tahun SDIT.

Saya mulai saja selayang pandang ….

Alhamdulillahirabbil’alamin wassalatu wassalamu ‘ala asrofil anbiyai wal mursalin sayyidina wamaulana muhammadin wa ala alihi washobihi ajmain ama ba’du.

Ayah Bunda yang budiman,

Sebagai sajian pembuka, izinkanlah saya berbahasa dengan bahasa rasa. Tuk menggedor pikiran kita sekeras mungkin demi buah hati tercinta. Agar mereka mampu berdiri menjadi penyelamat kehidupan. Saling bahu membahu mengembalikan kehidupan Islam. Masih ingatkah Ayah Bunda saat romansa indah bertahun yang lalu? Saat tubuh dan jiwa Bunda terasa terguncang, perih, teragitasi dan tiba-tiba buyar seketika saat hadiah terindah itu tiba. Tubuh mungil dan hangat itu berada di dada Bunda, menatap pendek, hening dan menyampaikan kehadirannya dengan gerak yang begitu pelan. Dialah makhluq paling mempesona sebagai hadiah istimewa dari Sang Pencipta. Saya tidak sepenuhnya setuju dengan puisi Khalil Ghibran yang berjudul Anak-anakmu. Dia mengatakan, “Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu”. Tidak! mereka adalah anak-anak kita yang diberikan oleh-Nya dengan haq. Bayi mungil itu kemudian membesar dan sebelum balik mereka adalah anak-anak kita yang dihibahkan oleh-Nya. Tidak sekedar untuk dimiliki, tapi sebagai amanah besar yang disematkan di pundak kita. Terlebih di zaman yang rusak hari ini.

Ingatlah tubuh mungil yang terlihat lemah itu, suatu saat dia bisa menjelma menjadi sosok-sosok penyelamat kehidupan. Dari tubuh yang kecil pernah menjadi Umar Bin Khattab, Sang Pemimpin sejati. Pernah menjadi Muhammad Al-Fatih, Sang Pembebas. Pernah menjadi Khalid bin Walid, Panglima Perang tiada dua. Pernah menjadi Imam Malik, Imam Hambali, Imam Hanafi, Imam Syafii dan banyak lagi ulama-ulama super cerdas. Pernah juga menjadi Ibnu Khaldun, Khawarizmi, Al-Kindi, Al Jabar, dan banyak lagi ilmuan-ilmuan yang super cerdas. Tubuh mungil itu bisa menjelma menjadi siapa saja… Ini sebuah keajaiban bukan?

Ayah Bunda yang shaleh,

Kalau mau jujur akan dijadikan apa anak-anak Ayah Bunda? Bukankah ada pepatah lama di dunia pengembangan diri yg perlu diingat, “Everything is created twice, first in the mind and then in reality”. Segala sesuatu dibuat dua kali. Pertama dalam pikiran (perencanaan) dan kedua dalam kenyataan (realisasi). Cobalah lihat segala hal di sekitar kita! Sebelum rumah dibangun, dimulai dari tahap desain. Sebelum jembatan indah terwujud, juga dimulai dari desain. Sebelum pesawat terbang mengudara, maka dia berawal dari desain. Sebelum reakor nuklir dibangun, juga dimulai dari tahap desain. Segala hal dikreasi dua kali. Sekarang apakah kita punya desain tentang diri anak-anak kita???? Apakah mereka penting dan berharga? Seriuskah desain yang kita buat? Atau kita ‘sekedar’ berbuat baik sehari-hari pada mereka sambil berharap mereka menjadi pribadi yang baik. Pribadi baik seperti apa? Pribadi baik untuk siapa? Sudah jelaskah desain untuk mereka???

Ayah Bunda, Saya ingin melengkapi kata-kata indah tentang pentingnya dua tahap kreasi di atas. Semakin penting segala sesuatu maka kita semakin serius dalam kreasi pertama. Semakin berharga segala sesuatu maka kita sangat serius dalam tahap desain. Setujukah Ayah Bunda? Bila kita tidak memiliki desain yang jelas tentang anak-anak kita, bukankah itu berarti kita tidak memperlakukannya sebagai sesuatu yang penting dan berharga? Kita bisa saja mengatakan mereka itu penting dan berharga, tapi kita perlakukan mereka sebagai sesuatu yang tidak istimewa.

Ayah Bunda yang berhati mulia,

Sebelum baligh, mereka sepenuhnya miliki kita. Mereka kita jaga dengan amanah. Setelah mereka menjadi mukalaf, ketika mereka terkena beban hukum, maka mereka milik siapa??? Apakah diri mereka menjadi milik mereka sendiri? Dengan alasan mereka sudah bertanggung jawab untuk terhadap dirinya. Tidak Ayah Bunda. Jangan ajarkan mereka egois. Jangan ajarkan mereka menjadi pribadi yang mampu meraih impiannya, mengejar cita-cita tinggi yang diidam-idamkan untuk kehidupan pribadi. Bahkan, jangan desain mereka sekedar menjadi pribadi yang baik. Ingatlah, “A bad system can destroy good people.” Demikian kata Gary Mottershead. Orang baik bisa dihancurkan sistem kehidupan yang rusak. Orang baik bisa digilas oleh zaman. Lalu bagaimana desain mereka??? Saat mereka baligh, desainlah bahwa mereka milik kehidupan Islam. Jadikan mereka penyelamat kehidupan. Ingatlah kembali cerita lama saat satu persatu pribadi agung bergabung dalam agenda menyelamatkan dunia dengan kalamullah. Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam bergabung dalam barisan membangun kehidupan Islam di usia 8 tahun. Thalhah bin Ubaidillah bergabung di usia 11 tahun. Al Arqam bin Abi Al Arqam bergabung di usia 12 tahun. Abdulah bin Mas’ud bergabung di usia 14 tahun, Sa’ad bin Abi Waqqash di usia 17 tahun. Ja’far bin Abi Thalib di usia 18 tahun. Zaid bin Haritsah di usia 20 tahun. Ustman bin Affan di usia 20, Mush’ab bin Umair di usia 24 tahun, Umar bin Khattab di usia 26 tahun.

Ayah Bunda yang berhati mulia,

Buatlah desain diri untuk anak-anak kita karena sayang kita. Seriuslah mendesain diri mereka karena amanah Allah swt. Milikilah desain agar anak-anak kita tidak hanya menjadi orang baik, tapi menjadi orang hebat. “A bad system can destroy good people, but it can’t destroy the great one” Desainlah agar mereka tidak hanya memiliki dirinya senditi, tapi mereka menjadi milik kehidupan masa depan. Kehidupan Islam di masa depan yang dinanti manusia. Jadikan mereka sebagai orang-orang yang berkontribusi merangkai peradaban Islam masa depan. Demi kehidupan akhirat yang panjang.

Assalamu’alaikum wrwb.


Tanya jawab :

  1. Ustadz saya mau bertanya, saya dan suami memberi nama anak saya muhammad alfatih dan kami punya keinginan agar kelak anak ini bisa menjadi pejuang islam di zaman sekarang. Cara apa saja ya ustadz agar kami bisa mendidik amanah ini sesuai dgn namanya?

jazakallah khair.

Jawaban:

Alhamdulillah, senang rasanya mendengar Bu Sari memiliki harapan besar terhadap anak. Persis yang seperti saya sampaikan di atas bahwa Allah swt telah menganugerahkan makhluk yang sangat istimewa yang bernama anak. Mereka adalah makhluk yang sempurna dan dapat menjadi pribadi sempurna ketika dewasa kelak. Seperti ibu dan suami, saya dan istri juga sedang berusaha mengoptimalkan proses pendidikan anak-anak. Saran saya, ibu memiliki desain diri anak yang mampu mengemban amanah besar (keumatan) kelak ketika mereka dewasa. Desain diri adalah hal-hal yang harus ada pada diri anak. Kalau saya merumuskannya sebagai 4 hal: Prinsip, Visi, Karakter dan Tanggung Jawab. Tuning = stel. Ini istilah yang saya kenalkan dalam dunia pengembangan diri. Setelah ada desain, maka kita wujudkan ke dalam diri mereka melalui teknik tuning. Contoh teknik tuning adalah tauladan dari orang tua. Dengan desain ini harapannya anak akan sukses dalam kehidupan pribadinya dan kontributif dalam membangun peradaban.


  1. Apakah sudah perlu anak anak usia 3 tahun diperlihatkan video-video jihad yang mungkin terlihat ngeri?

Jawaban:

Anak usia 3 tahun tidak bisa membedakan mana jihad dan mana pertandingan olah raga. Kemampuan kognitif mereka belum sempurna. Lebih baik usia seperti itu diperdengarkan murattal Al Qur’an. Usia seperti itu lebih baik mulai ditanamkan aqidah dengan mengenalkan nama Allah swt sebagai pencipta. Istri saya dulu sering mengenalkan benda-beda di sekitar sambil menyebut Allah swt sebagai Pencipta.


  1. Seperti apa sih contoh desain yg seharusnya di buat oleh orang tua itu…? bagaimana kongkretnya…?

Jawaban:

Desain diri yang saya tawarkan, termasuk untuk diri saya pribadi dan anak-anak, adalah The MODEL. Yang terdiri dari Prinsip, Visi, Karakter dan Tanggung Jawab. Saya ambil contoh Visi. Visi adalah kondisi futuristik dimana kita akan berada di masa depan. Di buku ini saya menawarkan dua macam visi, yaitu Visi Akhirat (True Vision) dan Visi Dunia (Big Vision). Dua macam visi ini mulai dituning pada anak kita sedini mungkin setelah kognitif mereka mulai berkembang. Caranya dengan sering bercerita tentang akhirat melalui kajian keluarga, obrolan di mobil atau saat kita berbicara 4 mata dengan anak. Ini untuk menanamkan True Vision. Adapun Big Vision, kita bisa ajak anak-anak berimajinasi (memvisualisasi) kondisi masa depan mereka. Kita putarkan film masa depan yang tokohnya adalah diri mereka. Big Vision ini harus berdampak pada True Vision. Artinya, profesi masa depan dia adalah untuk kepentingan akhirat. Misal Pebisnis yang dermawan dan suka berinfak. Pebisnis yang juga seorang da’i, dan lain-lain…Nah ini contoh satu komponen dalam desain diri yang harus ada pada anak-anak kita.

Bisa akses www.facebook.com/buku.themodel


  1. Ustadz, saya termasuk orang tua yg minim pengetahuan tentang kehidupan para ulama besar, bisakah di share, adakah benang merah yg bisa diambil dari pola asuh yg diterapkan oleh ibunda ibunda para ulama besar tersebut dalam mendidik anaknya sehingga anaknya menjadi orang hebat yg berguna bagi agamanya?

Jawaban:

Saya pernah baca bahwa peran orang tua sangat besar bagi lahirnya seorang ulama. Orang tua yang taat dalam ibadah dan berhasrat besar untuk menumbuh kembangkan anak biasanya akan melahirkan anak-anak yang luar biasa. Seperti halnya ulama-ulama besar. Misalnya, Imam Syafii. Ibunya mendukung dan mendo’akan dengan tulus untuk keberhasilan Imam Syafii dalam menuntut ilmu. Berikut ini contoh dari medsos tentang ungkapan do’a sang Ibu untuk Imam Syafi’i, “Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh Alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut Ilmu Pengetahuan peninggalan Pesuruhmu. Oleh karena itu aku bermohon kepadaMu ya Allah permudahkanlah urusannya. Peliharakanlah keselamatanNya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan Ilmu Pengetahuan yang berguna, amin!” Saya punya teori. Semakin shaleh orang tua, maka dia akan semakin menginginkan keshalehan anaknya. Semakin berilmu orang tua, maka dia akan semakin menginginkan anak-anaknya memiliki ilmu yang luasMendidik anak pada dasarnya cermin dari proses mendidik diri kita sendiri.


  1. Afwan ustadz mau Tanya tentang futuristik, apakah visi atau cita-cita anak kita yg menentukan/mengarahkan? Atau seperti apa baiknya? bukankah mereka juga punya hak dalam menentukan visi hidupnya?

Jawaban:

Mereka memiliki hak untuk memiliki visi dunia adalah pernyataan benar. Itu tidak berarti orang tua tidak mengarahkan. Bagaimanapun orang tua yang baik akan memahami potensi dan kecenderungan anak sehingga dia akan memberi fasilitas maksimal. Termasuk fasilitas di sini adalah melatih mereka untuk membangun visi. Melatih kemampuan visualisasi mereka tentang visi masa depan. Tentu saja melatih di sini harus disesuaikan dengan potensi mereka. Adapun visi akhirat maka ini adalah kewajiban orang tua menanamkannya sejak dini. Tidak ada pilihan.


  1. Ustadz saya mau tanya,anak saya yang berumur 5 th akhir-akhir ini selalu menanyakan tentang hari kiamat, bagaimana sebaiknya menjelaskannya agar anak tidak merasa takut? Jazakallah khoyr ustad

Jawaban:

Di jelaskan saja Bu tentang surga. Tentang indahnya hari akhir yang bernama surga biar ada kerinduan untuk pergi ke sana. Tidak usah buru-buru menjelaskan tentang dahsyatnya hari akhir atau kehidupan neraka. Intinya pada usia dini beri mereka motivasi positif tentang agama. Kalau mereka bertanya tentang dahsyatnya hari akhir, maka jawab sesuai keperluan saja. Itupun kalau mereka sudah cukup ‘dewasa’ untuk mencerna berita ghaib.


  1. Tadi ustadz menjelaskan bahwa 2 visi besar itu bisa ditanamkan setelah kognitif anak berkembang, itu berarti usia berapa ya kira-kira?

Jawaban:

Saya tidak tahu persis usia berapa. Ahli psikologi mungkin tahu. Saya kebetulan seorang engineer. Saya hanya mengobservasi anak-anak saya sendiri. Ketika mereka sudah bisa diajak bicara dan bisa membedakan antara saat ini dan masa depan maka kita bantu mereka untuk memvisualisasikan masa depannya melalui metode bercerita.


  1. Pertanyaan saya menyambung pertanyaan Mba Erfina. Adakah batasan atau pilihan dalam memberikan rukun iman & rukun Islam kepada anak sesuai usianya? Apa saja dalilnya? Terima kasih jazakumullahu khairan.

Jawaban:

Rukun Iman, rukun Islam atau agama secara keseluruhan bisa kenalkan sejak dini sesuai keperluan dan kemampuan mereka dalam mencerna. Ini hukum sunatullah saja. Sejauh yang saya pahami tidak ada dalil spesifik tentang batas usia dan materi ajar (rukun iman dan Islam). Tentu tidak efektif bila kita menjelaskan tentang ibadah haji pada anak usia 3 tahun. Untuk shalat tentu otomatis kita kenalkan sejak mereka melihat diri kita. Anak-anak akan mengimitasi orang tua saat melakukan shalat. Saya kira kita semua mengalami ini. Menurut saya yang paling penting kita punya ukuran keberhasilan dalam edukasi anak. Menurut saya kita bisa mengukurnya saat mereka baligh. Apakah saat baligh mereka sudah mau terikat hukum syara’ dalam kehidupan ataukah tidak. Nah, inilah pentingnya kita mengenalkan Islam sesuai dengan batas kemampuan mencerna mereka sebelum aqil baligh. Kalau sudah baligh maka mereka harus paham semua hukum yang terkait perbuatan mereka dalam kehidupan (sehari-hari).


Kesimpulan:

 

Ayah Bunda yang berbahagia, terimakasih telah membaca kata demi kata yang saya tuliskan di sini. Saya hanya berharap semoga kita serius dalam merancang desain diri anak-anak kita. Serius pula dalam men-tuning model diri mereka sehingga mereka sesuai dengan desain diri itu. Dunia hari ini bermasalah, maka harapannya adalah generasi muslim yang akan datang sebagai pengemban estafet peradaban dunia yang berkah. Untuk itu mari kita cetak anak-anak yang sukses pribadi dan kontributif dalam membangun peradaban.

Terakhir, sebagai penutup izinkan saya setelah ini sedikit mengenalkan The MODEL sebagai desain diri (minimal untuk diri saya, anak-anak dan keluarga saya sendiri) yang bersifat spritual ideologis untuk meraih sukses pribadi dan sukses peradaban. Kurang lebihnya mohon maaf. Semoga Allah swt meridhoi langkah kita. Aamiin.

Profile Buku The MODEL adalah sebuah buku pengembangan diri Islami pertama (di dunia) yang bersifat spiritual-ideologis. Buku yang terdiri dari 23 bab ini mengupas secara komprehensif bagaimana merancang desain diri dan mewujudkannya pada kehidupan untuk meraih sukses pribadi dan peradaban. Sangat relevan dengan keadaan dunia kita hari ini, yaitu Era Kegagalan (The Failure Era). Sebuah zaman dimana banyak orang gagal menata kehidupan pribadi dan gagal secara kolektif menata peradaban sehingga mengalami krisis multi-dimensi.

The MODEL menggunakan sintesis tiga disiplin keilmuan, yaitu: paradigma mesin cerdas (machine learning), kajian pengembangan diri (self-help) dan konsep Islam. Beberapa keunikan The MODEL dibandingkan buku pengembangan diri yang ada adalah berakar pada falsafah hidup yang kuat (aqidah); menjadikan Islam dan sunatullah sebagai prinsip; menjanjikan visi akherat dan dunia sekaligus; menawarkan karakter yang holistik untuk meraih kedua visi tersebut; dan mengemban dua tanggung jawab yang harus ditunaikan. Yang paling unik adalah sifat spiritual-ideologis pada The MODEL sehingga menjadikannya sebagai genre baru di dunia pengembangan diri. Sebuah inovasi pengembangan diri yang tidak hanya berorientasi pada kesuksesan pribadi tapi berporos pada kontribusi mewujudkan peradaban barokah. Jaminan keberhasilan konsep The MODEL adalah menjadikan Muhammad saw sebagai role model.

Buku ini dipersembahkan untuk siapa saja yang ingin mensketsa ulang pribadi dan kehidupannya. Sangat cocok untuk kalangan terdidik dari mahasiswa, profesional, pengusaha, intelektual, guru, dosen, dan juga ibu rumah tangga yang serius mencetak generasi unggul. Bahkan, sangat direkomendasikan untuk para trainer, motivator, inspirator yang selama ini telah malang melintang di dunia teknologi transformasi diri.


Baca Kata Pengantarnya di: http://tinyurl.com/KataPengantar

Simak Audionya di http://tinyurl.com/The-MODEL-On-Air

The MODEL


BEST SELLER

ensiklopedia-muhammad-saw-the-super-leader-super-manager8

Ensiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad SAW

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: