Beranda > Bisnisku, Ilmu Manfaat > ENSIKLOPEDIA HADITS KUTUBUSITTAH

ENSIKLOPEDIA HADITS KUTUBUSITTAH


product_large_buku-ensiklopedia-hadits-buku-terjemahan-lengkap-kitab-hadits-kutubussittah-8-jilid-rak_13690

Para perawi hadits telah mengerahkan seluruh tenaga dan pikiran untuk mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah. serta berhati-hati dalam memilih dan mencatatnya. Ribuan, bahkan ratusan ribu hadits telah berhasil didapatkan, tetapi tidak semuanya dibukukan. Hanya yang benar-benar meyakinkan yang akan diriwayatkan.

Kemudian lahirlah mahakarya nan hebat. Yang tidak hanya menguras tenaga, tapi juga pikiran, waktu, dan materi. Imam Bukhari misalnya, beliau menghabiskan lebih dari 16 tahun untuk menghimpun hadits-hadits Rasulullah. Semua itu tidak diperoleh hanya dari satu tempat, tetapi dari beberapa lokasi, atau bahkan negara yang letaknya berjauhan. Demikian pula dengan kerja keras yang telah dilakukan oleh Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa`i, dan Ibnu Majah.

Saat ini, jerih payah mereka membuahkan hasil yang dapat  dinikmati bersama melalui sebuah mahakarya agung yang kami beri judul, Ensiklopedia Hadits. Sebuah karya yang ditulis oleh para ahli yang berkompeten dan dipercaya. Semoga Allah memberi balasan berlimpah atas perjuangan dan kerja keras mereka.
KEUNGGULAN BUKU ENSIKLOPEDIA HADITS KUTUBUSITTAH
born
unggul
REFERENSI UTAMA SETELAH AL-QUR’AN
1. SHAHIH AL-BUKHARI
bukhari-1
Siapa yang tidak mengenal Imam Bukhari, seorang ulama hadits terkemuka di dunia. Hadits-hadits yang beliau riwayatkan memiliki derajat keshahihan paling tinggi. Bukan sesuatu yang berlebihan, apabila para ulama memberinya gelar Amirul Mu`minin fil Hadits (Pemimpin Kaum Mukminin dalam Bidang Hadits).
Imam Bukhari lahir di Bukhara tahun 194 Hijriyah. Nama lengkapnya, Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari, biasa dipanggil Abu Abdullah. Perjalanan hidupnya begitu mengesankan. Saat masih kecil, kedua matanya buta. Namun sang ibu tak pernah putus asa mendoakannya, hingga akhirnya Allah menyembuhkannya. Beliau sudah memulai pengembaraan sejak usianya baru beranjak sepuluh tahun. Kota-kota seperti Balkh, Naisabur, Rayy, Baghdad, Kufah, Mekah, Mesir, dan Syam menjadi bagian dari perjalanan ilmiahnya. Tidak heran jika guru dan muridnya ada di mana-mana.
Kecerdasan dan kekuatan hafalan beliau tidak terbantahkan. Kerja keras beliau dalam mengumpulkan dan menyeleksi hadits sungguh menakjubkan. Bayangkan, beliau menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk menemui para perawi hadits di berbagai negara. Di antaranya, Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekah dan Madinah), Kufah, Baghdad sampai Asia Barat. Dari kota-kota itu beliau bertemu 80 ribu perawi hadits. Kemudian dari merekalah, beliau mengumpulkan dan menghafal ratusan ribu hadits.
Tidak semua hadits yang beliau hafal, beliau riwayatkan. Beliau melakukan seleksi sangat ketat, di antaranya dengan meneliti apakah sanad (riwayat) hadits tersebut bersambung, dan apakah perawinya tsiqah (tepercaya).
Akhirnya, Imam Bukhari menghimpun dan menulis hadits-hadits yang sudah beliau seleksi. Dan kini, mahakarya Sang Imam pun ada di tangan Anda. Kitab Shahih al-Bukhari ini merupakan masterpiece beliau. Sampai saat ini, kitab ini menjadi rujukan utama di bidang hadits bagi kaum Muslimin seluruh dunia. Bahkan, para ulama menilai kitab ini sebagai kitab paling shahih setelah kitab suci al-Qur`an.
bukhari-2

2. SHAHIH MUSLIM

muslim 1

Shahih Muslim adalah kitab hadits tershahih setelah Shahih al-Bukhari. Derajat keshahihan keduanya bisa dikatakan sejajar. Sebab itu, ulama menyebut dua kitab ini dengan istilah ash-shahihain (dua kitab hadits shahih). Kedua penulisnya juga disebut asy-syaikhain, istilah yang digunakan untuk menyatakan dua ‘guru besar’ hadits terbaik.
Meski secara umum Shahih al-Bukhari lebih shahih secara periwayatan, namun para ulama menilai tidak semua hadits al-Bukhari selalu lebih shahih dibanding hadits Muslim, begitu pula sebaliknya. Bahkan, para ulama yang berpihak pada keunggulan kitab ini menilai bahwa Imam Muslim lebih sistematis dalam menyusun kitabnya dibanding al-Bukhari, yang tidak lain adalah gurunya. Imam Muslim menyeleksi 3033 hadits secara ketat dari sekitar 300 ribu hadits yang diterimanya.
Imam Muslim yang bernama lengkap Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi (821-875), belajar hadits sejak kecil. Dia rela menempuh perjalanan jauh hingga ke berbagai negara untuk menemui sejumlah guru. Dia pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan sejumlah negara lain untuk mempelajari hadits. Di Khurasan, Imam Muslim berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di ar-Rayy, belajar kepada Muhammad bin Mahran al-Jamal dan Abu Ghasan; lalu di Irak belajar kepada Imam Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz, belajar kepada Sa’id bin Manshur dan Abu Mash’ab; di Mesir, berguru kepada Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, serta kepada ulama ahli hadits yang lain. Dia juga berkali-kali mengunjungi Baghdad untuk belajar kepada para ulama hadits di sana.
Imam Muslim meninggal dunia pada usia 55 tahun di Nashr Abad, suatu daerah di luar Naisabur. Dia mewariskan karya-karya agung dalam bidang hadits yang sampai saat ini menjadi rujukan dalam memahami ajaran Islam, salah satunya yang ada di tangan Anda ini.
muslim 23. SUNAN ABU DAWUD
abu dawud

Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats al-Azdi as-Sijistani (202-275 H) adalah ulama hadits terkemuka pada zamannya. Ibnu Hibban berkata, “Abu Dawud merupakan salah seorang imam besar dunia yang menguasai fiqih, kaya ilmu, memiliki hafalan kuat, ahli ibadah, berkepribadian wara’, dan penuh ketekunan. Beliau menyusun berbagai kitab untuk membela sunah Nabi.” Ibnu Mandah berkata, “Orang yang memisahkan antara hadits yang shahih dan yang bermasalah, antara hadits yang benar dan yang salah ada empat: Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Nasa`i.”
Buku di tangan Anda ini, Sunan Abu Dawud, adalah mahakarya Imam Abu Dawud. Berdasarkan derajat keshahihannya, kitab ini menempati urutan ketiga dari Kutubussittah. Berbeda dengan Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang telah disepakati keshahihannya, di dalam Sunan Abu Dawud terdapat beberapa hadits dha’if. Meskipun demikian, bukan berarti Sunan Abu Dawud tidak layak dijadikan sebagai rujukan. Sebab, di setiap hadits dha’if beliau akan menjelaskan kedha’ifannya. Beliau berkata, “Aku sebutkan di dalam Sunan Abu Dawud hadits-hadits yang shahih atau yang mendekati derajat shahih. Jika ada hadits yang benar-benar dha’if, aku menjelaskan kedha’ifannya.” Adz-Dzahabi menyebutkan dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala` bahwa usai menyusun kitab Sunan Abu Dawud, Abu Dawud membacakannya kepada para ahli hadits. Mereka pun menerimanya sebagai rujukan dan menganggapnya seperti mushaf yang selalu diikuti. Mereka bersepakat mengakui keilmuan Imam Abu Dawud.
Adz-Dzahabi juga menukil perkataan salah seorang ahli hadits, “Seandainya seseorang tidak mempunyai ilmu kecuali dari mushaf al-Qur`an dan kitab (Sunan Abu Dawud) ini, dia tidak membutuhkan ilmu dari kitab lain sama sekali.” Perkataan ini tidak berarti mengesampingkan kitab-kitab hadits yang lain. Akan tetapi, perkataan tersebut menunjukkan betapa pentingnya kedudukan kitab Sunan Abu Dawud di dalam khazanah ilmu hadits.
4. JAMI’ AT-TIRMIDZI
tirmidzi

Melalui kitab ini, Imam Tirmidzi ingin menghimpun dua metode penyusunan hadits yang terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim. Metode penyusunan yang digunakan oleh Imam Bukhari menitikberatkan penempatan sebuah hadits berdasarkan hasil istinbat fiqih, sedangkan Imam Muslim berdasarkan lafaz. Imam Tirmidzi memadukan dua metode tersebut dengan meletakkan susunan hadits berdasarkan lafaz seperti yang dilakukan Imam Muslim, lalu memberikan istinbat fiqih seperti yang dilakukan Imam Bukhari.
Keistimewaan lain dari kitab ini adalah pembahasan yang lebih luas bila dibandingkan dengan kitab Bukhari dan Muslim. Beliau mengkaji satu persatu hadits-hadits yang terkandung di dalamnya. Selain itu, beliau juga menyebutkan istilah-istilah baru, permasalahan-permasalahan ilmiah dalam hadits, termasuk fiqih hadits.
Imam Tirmidzi bernama lengkap Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin adh-Dhahhak at-Tirmidzi (209-279 H/824-892 M). Beliau lahir di Tirmidz yang sekarang masuk dalam wilayah Uzbekistan. Beliau adalah seorang imam dan hafidz di kalangan ahli hadits. Dia pernah berguru kepada Imam Bukhari (193-256 H/810-870 M) sekaligus kepada para guru Imam Bukhari. Demi mendapatkan riwayat hadits yang otentik, beliau rela menempuh perjalanan jauh ke berbagai negeri seperti Khurasan, Irak, dan Hijaz.
Di akhir hayatnya, Imam Tirmidzi mengalami kebutaan setelah gigih menuntut ilmu dan mengarang beberapa kitab untuk kemaslahatan generasi selanjutnya. Beliau wafat pada usia sekitar 70 tahun di tanah kelahirannya, Tirmidz. Di antara hasil karyanya adalah asy-Syama`il an-Nabawiyyah, at-Tarikh, al-‘Ilal, dan al-Jami’ al-Kabir atau Jami’ at- Tirmidzi yaitu kitab yang ada di tangan Anda ini.
5. SUNAN AN-NASA’I
annasaiLahir di kota Nasa tahun 215 H, sejak kecil beliau telah menuntut ilmu dan berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya. Khurasan, Irak, Hijaz, Mesir, dan Syam telah disambangi demi mendapatkan riwayat hadits. Beliau—sebagaimana yang disebutkan Imam Hakim—menjadi ulama paling faqih di Mesir pada masa itu sekaligus orang yang paling mengetahui hadits-hadits dan para perawinya. Beliau adalah Ahmad bin Syu’aib Abu Abdurrahman an-Nasa`i. Imam ad-Daraquthni berkata, “Abu Abdurrahman terdepan dalam ilmu hadits dibandingkan seluruh ahli hadits pada zamannya.” Imam ad-Daraquthni juga pernah bercerita tentang seorang ulama bernama Abu Bakar bin al-Haddad asy-Syafi`i. Sang ulama ini sering mengambil hadits dari Imam an-Nasa`i, beliau pernah berkata, “Aku ridha Imam an-Nasa`i menjadi hujjah antara diriku dengan Allah.” Bahkan Imam Tajuddin as-Subki pernah bertanya kepada Imam adz-Dzahabi, “Siapakah yang lebih kuat hafalannya, Muslim bin al-Hajjaj penulis Shahih Muslim atau an-Nasa`i?” Beliau menjawab, “An-Nasa`i.” Lalu Imam Tajuddin as-Subki menanyakan hal itu kepada ayahnya, Imam Taqiyyuddin as-Subki. Ternyata beliau pun menyatakan hal yang sama.
Buku di tangan Anda ini, Sunan an-Nasa`i, adalah mahakarya beliau. Para ulama berbeda pendapat mengenai Sunan an-Nasa`i. Ada yang menyebutnya Shahih an-Nasa`i karena menganggap di dalamnya adalah hadits-hadits shahih.  Ada yang menganggap Sunan an-Nasa`i lebih utama daripada kitab-kitab Kutubussittah yang lain. Ada yang menganggap Sunan an-Nasa`i lebih utama daripada Shahih Muslim. Ada yang menganggap Sunan an-Nasa`i lebih utama daripada Sunan Abu Dawud dan Jami’ at-Tirmidzi. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, semua sepakat bahwa Sunan an-Nasa`i adalah salah satu referensi utama dalam khazanah ilmu hadits.
6. SUNAN IBNU MAJAH
ibnu majah

Abu Abdullah Muhammad bin Yazid yang populer dengan nama Ibnu Majah, lahir pada tahun 209 H di kota Qazwin. Beliau mengawali pendidikannya di kota ilmu tersebut dengan mempelajari al-Qur`an dan menghafalnya. Kemudian beliau mendatangi halaqah para muhaddits dari masjid ke masjid untuk mendapatkan riwayat hadits.
Pada usia 22 tahun beliau pergi berguru kepada para ulama di berbagai kota pusat ilmu pengetahuan saat itu, seperti Khurasan, Bashrah, Kufah, Baghdad, Mekah, Madinah, dan Mesir. Setelah 15 tahun berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu guru ke guru lain, akhirnya beliau kembali ke Qazwin. Di sinilah beliau mulai menulis berbagai karya dan mengajarkan hadits kepada para penuntut ilmu yang datang dari berbagai wilayah.
Buku di tangan Anda ini, Sunan Ibnu Majah, adalah mahakarya beliau. Imam Ibnu Majah pernah bercerita tentang karyanya ini, beliau berkata, “Aku menunjukkan Sunan Ibnu Majah ini kepada Abu Zur’ah ar-Razi. Dia melihatnya lalu berkata, “Menurut dugaanku, jika kitab ini sudah berada di tangan orang-orang, niscaya kitab-kitab hadits lain tidak terpakai lagi.” Ungkapan ini seakan menafikan kitab-kitab hadits lainnya. Namun, sebenarnya ungkapan ini hanya untuk mengukuhkan keutamaan kitab ini atas sebagian kitab-kitab hadits. Hal ini menunjukkan bahwa Sunan Ibnu Majah memang layak disandingkan dengan lima kitab hadits terkemuka lainnya, yaitu Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Jami’ at-Tirmidzi, dan Sunan an-Nasa`i. Dengan demikian, Sunan Ibnu Majah adalah kitab keenam dari Kutubussittah yang menjadi referensi utama kaum Muslimin sepanjang masa dalam ilmu hadits.
gantungisi
(8 jilid buku Ensiklopedia Hadits + Rak Eksklusif)
 
Rak Eksklusif yang didesain khusus untuk menempatkan buku berharga ini di rumah Anda, dinding masjid, mushalla, bahkan kantor sekalipun. Dengan demikian kitab-kitab ini akan tersusun rapi dan memudahkan pembaca memilih kitab yang diinginkannya

Buku ini bisa anda dapatkan hanya dengan harga Rp 3.999.500,-  namun jika anda membelinya secara cash, maka anda akan mendapat potongan harga sebesar 20%, sehingga harganya menjadi sebesar Rp 3.199.600,-.

 

Untuk pemesanan, Anda bisa menghubungi Admin Mimpi Pejuang atau hubungi kami di:

unnamedwindows-mobile-smswhatsapp Call/Whatsapp/SMS : 085220874387

31b0blackberry-messenger-iconPin BB : 761F2A5B

email-icon Email : Jhans_ash@yahoo.co.id

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: