Beranda > Dunia islam, Renungan > There is The Love

There is The Love


Pada kesempatan silaturrahim sekaligus launching buku “Ensiklopedia Leadership dan Manajemen Muhammad SAW (The Super Leader Super Manager)” yang diprakaryai oleh Dr. Muhammad Syafii Antonio dan Tazkia di Masjid Andalusia Islamic Center Sentul City, Ahad 10 Oktober 2010, panitia dari STIE ( Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ) Tazkia berkesempatan menghadirkan salah satu tim nasyid terkenal asal negeri paman Syams, yaitu tim nasyid “Debu”. Sejenak sebelum tim nasyid “Debu” melantunkan syairnya yang indah dalam sebuah nasyid berjudul “Wahai Kekasihku”, Musthofa, vokalis dari tim nasyid “Debu” menceritakan sebuah kisah yang memiliki makna sangat dalam terkait dengan kecintaan Sang Kholiq, Allah SWT kepada hambanya yang beriman. Beliau menceritakan sebuah kisah tentang Laila dan Majnun. Kisah yang menceritakan tentang sepasang kekasih yang saling mencintai namun tanpa restu orang tua. Di sisi lain, orang tua Laila tetap tidak menginginkan putrinya Laila untuk berhubungan dengan Majnun bahkan untuk bertemu sekalipun. Namun, di lain kesempatan ternyata takdir mempertemukan mereka di dalam suatu acara, dimana saat itu Laila menjadi panitia di acara tersebut. Ketika itu Laila bertugas untuk menyiapkan piring hidangan untuk para tamu undangan. Sementara saat itu Majnun sedang berdiri di dalam barisan antrian untuk mengambil giliran makan. Jantungnya begitu berdebar-debar karena sebentar lagi dirinya akan bertemu sang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Ketika gilirannya tiba mengambil makanan dari piring yang disediakan oleh Laila, ada hal lain yang dilakukan oleh Laila saat itu, yaitu Laila menjatuhkan piringnya ke lantai hingga pecah. Sontak seketika para tamu melihat kearah pecahan piring tersebut. Dan senyum bahagia pun terpancar dari kedua orang tua Laila, bahwa ternyata Laila sudah tidak mencintai Majnun lagi. Namun ada yang aneh dari kejadian ini, salah seorang sahabat Majnun sempat memperhatikan sikap yang ditunjukan Majnun saat itu, yaitu sebuah senyuman. Lantas sahabat itu bertanya, “Wahai Majnun, mengapa kau tersenyum saat piring itu dijatuhkan?, kau ini benar-benar ‘majnun'” – majnun adalah bahasa arab yang artinya gila-. Lalu Majnun pun menjawab, “Engkau tidak mengetahuinya, sesungguhnya Laila sangat mencintaiku sehingga aku dibiarkan untuk ikut antrian lagi agar bisa bertemu dengannya kembali”.

Di penghujung kisah tersebut, Musthofa menyisipkan sebuah hikmah dari kisah diatas yang mengingatkan kita semua tentang sebuah ujian yang diberikan Allah kepada setiap manusia, bahwasannya ujian yang diberikan kepada manusia merupakan bentuk kecintaan Allah kepada hambanya. Ketika Allah SWT memberikan ujian kepada kita, lalu kemudian ujian itu ditambahkan lagi, hendaknya kita tanggapi ujian tersebut dengan sebuah senyuman, karena sesungguhnya Allah mencintai kita. Dan yang patut dipertanyakan sesungguhnya ketika kita tidak pernah di beri ujian oleh Allah SWT.

“Allah tidak membebani sesorang melainkan sesuai kesanggupannya.. (QS. Al-Baqoroh : 286)

 

Malam ini, kekasihku…

…..Hamba datang, kepadaMu

 

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: