Beranda > Dunia islam, Renungan > Kehidupan setelah kematian (Tamasya Alam Akhirat)

Kehidupan setelah kematian (Tamasya Alam Akhirat)


Setiap hamba diciptakan dari tanah tempat penguburannya

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda : “Setiap hamba yang lahir diciptakan dari tanah tempat ia dikuburkan kelak.” (HR. Abu Nu’aim di dalam kitab Al-Hilyah)

Yang mengikuti mayit ke kuburannya dan apa yang akan tinggal bersamanya serta ngerinya kematian

Dari Anas bin Malik ra, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda : “Seorang mayit akan mengikuti tiga hal, yang dua akan kembali ke tempatnya semula, sedangkan yang satu akan menemaninya. Keluarga, harta dan amalnya akan mengikutinya, keluarga dan hartanya akan kembali pulang, sedangkan amalnya akan menyertainya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kubur merupakan persinggahan pertama menuju akhirat

Dari Hani’ bin Utsman, ia berkata, “Jika Utsman berhenti di dekat kuburan, ia menangis sampai jenggotnya basah dengan air mata. Maka ada yang bertanya, ‘Kenapa ketika mengingat surga dan neraka Anda tidak menangis?’ Beliau bersabda :

“Kuburan merupakan persinggahan pertama menuju akhirat, jika seorang hamba selamat darinya, niscaya persinggahan-persinggahan setelahnya akan lebih mudah dilalui. Namun jika ia tidak selamat, maka persinggahan-persinggahan sesudahnya akan lebih berat untuk dilaluinya.” (HR. Ibnu Majah)

Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, “Rasulullah Saw melarang untuk mengecat kuburan dan duduk di atasnya serta membangun bangunan di atasnya.” (HR. Muslim)

Memilihkan tempat penguburan bag mayt, dan mengutamakannya di kota Madinah

“Siapa yang bisa untuk mati di kota Madinah, hendaklah ia mati di dalamnya, karena aku akan memberi syafaat bagi seorang muslim yang mati di kota Madinah.” (HR. Tirmidzi)

Seorang mayit diazab karena tangisan anggota keluarganya kepadanya

Imam Bukhari berkata, “Seorang mayit diazab karena sebagian tangisan sambil menjerit-jerit dan menyobek-nyobek bajunya sendiri (niyahah) yang dilakukan oleh anggota keluarganya diatasnya, jika tangisan itu sudah menjadi ‘sunnah’nya, karena Allah Swt bersabda :

“Jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka.” (At-Tahrim : 6)

Dan Nabi Saw juga bersabda :

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pertanyaan dua malaikat kepada mayit

“Jika seorang hamba telah dikubur dan semua pelayat sudah pulang, sesungguhnya ia bisa mendengar suara sandal mereka. Setelah itu datanglah dua malaikat, lalu mendudukannya, kemudian bertanya kepadanya,’Apa ang kamu katakan tentang laki-laki ini, Muhammad Saw?’ Jika seorang mukmin, ia akan menjawab, ‘Saya bersaksi bahwa ia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. ‘Lalu dikatakanlah kepadanya, ‘Lihatlah tempat tinggalmu di neraka, Allah telah menggantinya dengan tempat tinggal di surga’. Hamba itu pun bisa melihat kedua tempat tinggalnya. Qatadah berkata, ‘Telah disebutkan  kepada kami bahwa kuburnya lalu diluaskan oleh Allah empat pulu hasta’. Sedangkan Muslim mengatakan, ‘Tujuh puluh hasta’. Lalu di dalamnya dipenuhi dengan hijau-hijauan sampai hari kebangkitan.  Kita kembali lagi kepada hadits Anas, ia melanjutkan, “Namun jika ia orang munafik dan kafir, maka dikatakan kepadanya, ‘Apa yang kamu katakan tentang laki-laki ini?’ Ia akan menjawab, ‘Aku tidak tahu, aku hanya mengatakan apa yang dikatakan manusia’. Lalu dikatakan lagi kepadanya, ‘Kamu tidak mengetahui dan tidak mau membaca’. Kemudian ia dipukul sekali pukulan di antara dua telinganya dengan palu dari besi, maka ia pun menjerit dengan jeritan yang dapat didengar semua makhluk kecuali jin dan manusia’.” (HR. Bukhari)

Hadits riwayat Al-Barra’ yang terkenal dengan kondisi mayit

Dari Al-Barra’ bin ‘Azib ra, ia berkata, “Kami pernah keluar mengantarkan jenazah seorang sahabat Anshar bersama Rasulullah Saw, maka sampailah kami di kuburan yang belum dilahad. Kemudian Rasulullah Saw duduk mrnghadap kiblat, dan kami ikut duduk disekelilingnya, seakan-akan ada burung yang hinggap di atas kepala kami. Sedangkan tangan Rasulullah memegang tongkat, dan beliau memukulnya dengan pelan ke atas tanah, lalu meihat ke langit dan ke bumi. Beliau mengangkat dan menurunkan pandangannya tiga kali. Setelah itu berdabda sebanyak dua atau tiga kali :

“Berlindunglah kalian kepada Allah dari adzab kubur.”

Kemudian beliau berdoa tiga kali :

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur.”

Lalu beliau Saw bersabda, “Jika seorang hamba yang mukmin meninggalkan dunia (wafat), dan berangkat menuju akhirat, maka turunlah kepadanya para malaikat dari langit yang putih berseri wajah-wajah mereka. Wajah mereka laksana matahari, dan mereka (para malaikat) membawa selembar kain kafan dan balsem dari surga. Kemudian mereka duduk di dekatnya sejauh mata memandang. Lalu datanglah malaikat maut dan duduk di samping kepalanya, kemudian bertanya, ‘ Wahai jiwa yang baik -didalam riwayat lain jiwa yang tenang- keluarlah menuju ampunan dan ridha Allah’. Maka keluarlah nyawanya bagai mengalirnya air dari bejana, kemudian malaikat maut memegang nyawanya. Di dalam riwayat lain, ‘Sampai ketika nyawanya keluar, seluruh malaikat yang ada di antara langit dan bumi mendoakannya, juga seluruh malaikat yang ada di langit. Kemudian dibukakanlah baginya pintu-pintu langit. Setiap penjaga pintu yand di lewati nyawa itu  pasti berdoa kepada Allah agar mereka yang membawanya pertama kali, setelah malaikat maut mengambil nyawa tersebut, para malaikat yang lain tidak membiarkan nyawa tersebut berada di tangan malaikat mau sekejap pun, mereka langsung mengambilnya dan menempatkannya di dalam kafan dan balsem yang mereka bawa. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah :

“Malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugas mereka.” (Al-An’am : 61)

Maka semerbaklah bau yang sangat harum bagaikan bau kasturi dari nyawa tersebut. Kemudian para malaikat membawa nyawa tersebut ke atas langit, dan tidaklah rombongan itu melewati serombongan malaikat kecuali mereka akan bertanya, “Milik siapakah nyawa yang baik ini?” Lalu mereka menjawab, “Si Fulan anaknya si Fulan”, dengan menyebutkan namanya yang paling baik ketika masih di dunia. Sehingga ketika sampai pada langit dunia, mereka meminta untuk dibukakan pintunya. Lalu dibukakanlah pintu langit dunia untuk mereka, sehingga mereka sampai pada langit yang ketujuh. Maka Allah berfirman, “Tulislah kitab hamba-Ku ini di ‘Illiyyin :

“Dan apakah kalian tahu apa itu Illiyyin, (yaitu) kitab yang bersi catatan (amal), yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah).” (Al-Muthaffifin : 19-21)

Lalu ditulislah kitab (catatan)nya di Illiyyin, kemudian dikatakan, “Kembalilah ia ke bumi, karena sesungguhnya Aku telah menjanjikan kepada mereka (manusia) bahwa Aku telah menciptapkan mereka dari tanah dan kepadanya  Aku kembalikan mereka, serta daripadanya Aku keluarkan mereka sekali lagi. Maka dikembalikanlah hamba tersebut ke bumi, kemudian nyawanya dikembalikan lagi ke dalam jasadnya. Dan sesungguhnya ia bisa mendengar suara sandala teman-temannya (yang masih hidup) ketika mereka kembali dari kubur. Lalu datanglah dua malaikat yang sangat menakutkan, kemudian mereka menghardiknya dan mendudukannya, lalu bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabb-mu?’ Hamba itu menjawab, ‘Rabbku adalah Allah’. Kedua malaikat itu bertanya lagi, ‘Apa agamamu?’ Ia menjawab, Agamaku Islam’. Keduanya bertanya kembali, ‘Siapa lelaki yang telah diutus kepada kalian ini?’ Ia menjawab, ‘Dia adalah Rasulullah Saw.’ Lalu kedua malaikat bertanya, ‘Dari mana kamu mengetahuinya?’ Hamba itu menjawab, ‘Aku telah membaca kitab Allah (Al-Qur’an), lalu aku beriman kepadanya dan membenarkannya.’ Setelah itu kedua malaikat bertanya sambil menghardikk, ‘Siapa Rabbmu?’ Apa agamamu?’ Dan siapa Nabimu?’ Dan inilah ujian terakhir yang menimpa seorang mukmin di alam kubur. Hal itulah maksud tatkala Allah berfirman :

“Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan perkataan yang tetap dalam kehidupan dunia.” (Ibrahim : 27)

Ketika itu hamba itu menjawab, ‘Rabbku adalah Allah, agamaku Islam, dan Nabiku adalah Muhammada Saw. Kemudian ada penyeru yang memanggil, ‘HambaKu telah membenarkan, oleh karena itu bentangkanlah baginya kasur dari surga, pakaikanlah untuknya pakaian dari surga dan bukakanlah baginya pintu menuju durga’. Lalu datanglah nyawanya dan harum-harumannya. Setelah itu kuburnya diluaskan sejauh mata memandang. Kemudian datanglah –dan dalam riwayat lain, dijadikan untuknya– seorang laki-laki yang bagus wajah dan pakaiannya serta harum baunya, lalu berkata, ‘Bergembiralah dengan kenikamatan yang membahagiakanmu. Bergembiralah dengan keridhaan Allah dan surga-surga yang didalamnya terdapat kenikmatan yang kekal. Inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu’. Kemudian hamba itu berkata, ‘Dan Anda, semoga Allah memberimu kabar gembira dengan kebaikan, siapa Anda? Wajah Anda menampakkan bahwa Anda datang membawa kebaikan’. Laki-laki itu menjawab, ‘Akulah amalanmu yang shalih. Demi Allah, aku tidak pernah mengenalmu kecuali sebagai orang yang bersegera dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah dan malas untuk bermaksiat kepadaNya. Semoga Allah membalasmu dengan  kebaikan’. Lalu dibukakanlah untuknya pintu surga dan pintu neraka, kemudian dikatakan kepadanya, Inilah (neraka) tempat tinggalmu, jika kamu bermaksiat kepada Allah. Tetapi Allah akan menggantinya untukmu dengan ini (surga).’ Ketika hamba tersebut melihat apa yang ada di dalam surga, ia mengatakan, ‘Wahai Rabbku, segerakanlah hari kiamat, supaya saya bisa kembali kepada harta dan keluargaku’. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Tenanglah’. Beliau Saw melanjutkan, ‘Jika seorang hamba yang kafir meninggal dunia dan menghadapa akhirat, turunlah kepadanya malaikat-malaikat yang keras lagi seram, hitam wajah mereka, dan mereka membawa kain kafan yang kasar dari neraka. Kemudian para malaikat itu duduk di dekatnya sejauh mata memandang. Lalu datanglah malaikat maut dan duduk di samping kepalanya, kemudian berkata, ‘Wahai jiwa yang keji, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahanNya. Kemudian malaikat itu mencabut nyawanya sebagaimana dicabutnya rambut yang tebal dari kulit domba yang basah, sehingga terputuslah urat-urat dan saraf-sarafnya. Maka seluruh malaikat yang ada di antara langit dan bumi melaknatnya, juga semua malaikat yang menghuni langit. Kemudian ditutuplah pintu-pintu langitnya untuknya. Seluruh malaikat penjaga pintu-pintu langit berdoa kepada Allah agar jangan sampai mereka yang pertama kali membawa naik nyawanya. Lalu malaikat maut mengambil nyawa tersebut. Dan ketika ia telah memegangnya, para malaikat yang lain tidak membiarkannya sekejap pun memegang nyawa tersebut, mereka langsung mengambilnya, lalu menempatkannya didalam kain kafan. Maka keluarlah nyawa tersebut disertai bau sangat busuk yang memenuhi bumi. Lalu para malaiat membawanya naik ke langit. Dan setiap kali mereka melewati rombongan para malaikat, mereka bertanya, ‘Milik siapakah nyawa yang busuk ini?’ Para malaikat yang membawanya menjawab, ‘Fulan bin Fulan’, dengan menyebutkan namanya yang paling jelek ketika masih di dunia. Sehingga mereka sampai di langit dunia, lalu mereka meminta untuk dibukakan pintu langit, namun pintu tersebut tidak dibukakan. Kemudian Rasulullah Saw membaca ayat, ‘Tidak dibukakan untuk mereka pintu-pintu langit, dan mereka juga tidak akan masuk surga sehingga ada seekor unta yang bisa masuk ke lubang jarum’. (Al-A’raf :40). Lalu Allah berfirman, ‘Tulislah kitab catatan (amal)nya di dalam Sijjin yang berada di dasar bumi paling bawah’. Lalu dikatakan, ‘Kembalikan ia ke bumi, karena sesungguhnya Aku telah menjanjikan kepada mereka (manusia) bahwa Aku telah menciptakan  mereka dari tanah dan kepadanya Aku kembalikan mereka, serta dari padanya Aku keluarkan sekali lagi. Maka dilemparkanlah nyawanya dengan kuat dari atas langit ke dalam tubuhnya. Kemudian beliau Saw membaca :

“Dan barang siapa berbuat syirik kepada Allah, maka seakan-akan ia terjatuh dari langit, lalu disambar burung atau dilemparkan oleh angin ke tempat yang jauh.” (Al-Hajj : 31)

Lalu nyawanya dikembalikan ke dalam tubuhnya. Dan ia bisa mendengar suara sandal teman-temannya yang kembali dari kuburan. Setelah itu datang dua malaikat yang keras hardikannya, lalu menghardiknya dan mendudukinya, kemudian bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabbmu?’ Hamba tersebut menjawab, ‘Ah…, ah…, aku tidak tahu’. Lalu keduanya bertanya lagi, ‘Apa agamamu? Hamba itu menjawab lagi, ‘Ah…, ah…, aku tidak tahu’. Keduanya bertanya lagi, ‘Lalu apa yang kamu katakan tentang laki-laki yang diutus kepada kalian (Muhammad Saw).’ Hamba itu juga tidak mengenal namanya. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Muhammad!’ Namun lagi-lagi ia menjawab, ‘Ah…, ah…, aku tidak tahu. Aku hanya mendengar manusia mengatakan hak itu’. Maka dikatakan, ‘Kamu tidak tahu dan tidak mau membaca’. Lalu berserulah penyeru dari langit, ‘Sesungguhnya hamba itu telah mendustakan. Oleh karenanya, bentangkanlah baginya kasur dari surga, dan bukakanlah untuknya salah satu pintu neraka. ‘Maka terasalah olehnya panas dan asapnya. Kemudian kuburnya disempitkan sehinggga hancurlah tulang belulangnya. Setelah itu datanglah -dalam riwayat lain diwujudkan untuknya seorang laki-laki yang jelek wajah dan pakaiannya serta busuk  baunya lalu berkata kepadanya, ‘Bergembiralah dengan apa yang akan menyusahkanmu. Inilah hari yang telah dijanjikan untukmu’. Hamba itu pun menjawab, ‘Dan kamu, semoga Allah memberi kabar gembira dengan kejelekan. Siapakah kamu ini? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan keburukan’. Maka laki-laki itu menjawav, ‘Akulah amalanmu yang jelek. Demi Allah aku tidak mengenalmu kecuali sebagai orang yang malas untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah, namun cepat-cepat ketika bermaksiat kepadaNya. Semoga Allah membalasmu dengan keburukan’. Lalu ditetapkan baginya kebutaan, ketulian dan kebisuan, sedangkan tangannya memegang palu yang seandainya dipukulkan ke gunung, niscaya akan hancur menjadi debu-debu. Kemudian ia pun memukulkan dirinya dengan sekali pukulan sehingga ia menjadi debu. Lalu Allah mengembalikannya ke bentuk semula, dan ia memukulkan dirinya kembali dengan palu tersebut, lalu berteriaklah ia dengan teriakan yang bisas di dengar oleh seluruh makhluk kecuali jin dan manusia. Setelah itu dibukakanlah untuknya salah satu pintu neraka dan dibentangkanlah untuknya kasur dari neraka. Maka ia berdoa, ‘Wahai Rabbku, janganlah Engkau bangkitkan hari kiamat’. (HR. Abu Dawud, Hakim, Thayalisi, Al-Ajiri dan Ahmad) Sedangkan lafadznya menurut Ahmad.

Di antara sebab – sebab tertimpa adzab kubur

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Saw, ia berdabda :

“Kebanyakan yang menyebabkan adzab kubur adalah air kencing.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Maksudnya, orang yang tidak mau bersuci dari kencingnya,

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Nabi Saw pernah melewati dua makam, lalu beliau bersabda :

“Sesungguhnya kedua orang penghuni kubur ini sedang disiksa, dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar. Adapun salah seorang dari mereka selalu menyebarkan namimah (fitnah), sedangkan yang satunya tidak mau bersuci dari kencingnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apa yang bisa menyelamatkan kita dari siksa kubur

Pertama, beriman kepada Allah Swt tanpa dicampuri kesyirikan dan kemunafikan Kemudian beramal sholih sebagaimana tuntunan Rasulullah Saw dan istiqomah ( teguh pendirian ) di atas keshalihan tersebut sampai matinya. Ini adalah seagung-agungnya sebab keselamatan seseorang di dunia dan di akhirat kelak.

Kedua, membaca surat Al Mulk ( surat ke 67 dalam Al Qur’an )
قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – (سورة تبارك هي المانعة من عذاب القبر)
Rasulullah Saw  bersabda : “Surat Tabaarok adalah pencegah/penghalang dari adzab kubur.” ( Silsilah Ahaaditsish Shahihah oleh Syaikh al Albani rohimahulloh no. 1140, shohihul Jaamie n. 3643 )

Ketiga, meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ »
Dari Abdullah bin Amr ra dari Nabi Saw bersabda : “Tidaklah seorang muslim meninggal di hari Jum’at atau di malam Jum’at melainkan Allah Swt akan melindunginya dari fitnah kubur.” ( HR. Ahmad dan Tirmidzi dihasankan Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Ahkaamul Janaaiz )

Keempat, meninggal karena sakit perut.
عَنْ أَبِى إِسْحَاقَ السَّبِيعِىِّ قَالَ قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ صُرَدٍ لِخَالِدِ بْنِ عُرْفُطَةَ أَوْ خَالِدٌ لِسُلَيْمَانَ أَمَا سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ قَتَلَهُ بَطْنُهُ لَمْ يُعَذَّبْ فِى قَبْرِهِ ». فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ نَعَمْ.
Dari Abu Ishaq as-Sabie’ie, ia berkata : Sulaiman bin Shurod berkata kepada Kholid bin ‘Urfuthoh atau sebaliknya, “Bukankah engkau telah mendengar Rasulullah Saw bersabda : ‘Barangsiapa yang meninggal karena sakit perut, ia tidak di adzab di kuburnya’? Maka salah seorang berkata kepada temannya, “Betul”. ( HR. Tirmidzi dishohihkan Syaikh al Albani rohimahulloh dalam shohiehut targhieb wat tarhieb no. 1410  )

Kelima, ribath ( berjaga-jaga ) di jalan Allah Subhaanahu wa Ta’aala
عَنْ سَلْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ      « رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِى كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِىَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَ ».
Dari Salman al-Farisi rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda : “Berjaga-jaga sehari semalam di jalan Allah adalah lebih baik dari puasa dan shalat malam selama sebulan penuh. Dan jika ia mati pada saat itu, ia akan diberi pahala atas amalnya, ditetapkan baginya rizki dan aman dari siksa kubur.” ( HSR. Muslim dalam Shohihnya no. 5047 )

Keenam, mati syahid di medan pertempuran.
عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ سِتُّ خِصَالٍ يُغْفَرُ لَهُ فِى أَوَّلِ دَفْعَةٍ وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الأَكْبَرِ وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ الْيَاقُوتَةُ مِنْهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنَ الْحُورِ الْعِينِ وَيُشَفَّعُ فِى سَبْعِينَ مِنْ أَقَارِبِهِ »
Dari al-Miqdam bin Ma’die kariba, ia berkata : Rasulullah Saw bersabda : “Bagi orang yang syahid, ia memiliki enam bagian kebaikan di sisi Allah ; Ia diampuni sejak pertama kali tetesan darahnya mengalir, ia melihat tempatnya di Surga, ia dilindungi dari adzab kubur, ia merasa aman di hari kebangkitan, diletakkan di atas kepalanya mahkota dari yakut yang lebih baik dari dunia dan apa yang di atasnya, ia dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari bermata jeli dan ia diizinkan memberikan syafa’at kepada tujuh puluh anggota keluarganya.” ( HR. Tirmidzi dalam sunannya no. 1764 dishohihkan syaikh al Albani rohimahulloh dalam shohiehut targhieb wat tarhieb no. 1375 )

Ketujuh, bersuci dari kencing ( menjaga kebersihan dan kesucian diri dari najis )
عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “عامة عذاب القبر في البول فاستنزهوا من البول”
Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu  ‘anhuma, ia berkata : Rasulullah Saw bersabda : “Kebanyakan adzab kubur disebabkan oleh air kencing. Maka bersucilah dari air kencing!” ( HR. al-Bazar, Thobronie dalam al Kabier, al Hakim dan Daraquthnie. Syaikh al-Albani rohimahulloh menilainya ‘Shohieh lighoirihi’ dalam Shohiehut Targhieb wat Tarhieb no. 158 )

Kedelapan, berwasiat kepada keluarganya untuk tidak meratapinya ketika ia meninggal dunia.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنْ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْمَيِّتُ يُعَذَّبُ فِى قَبْرِهِ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ ».
Dari Abdullah bin ‘Umar dari Umar bin Khoththob rodhiyallohu ‘anhuma dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda : “Mayit itu di adzab dalam kuburnya disebabkan ratapan keluarganya.” ( HSR. Bukhori dan Muslim )
Adapun jika sewaktu hidup ia telah berwasiat kepada keluarganya untuk tidak meratapinya kalau ia mati dan dikubur, kemudian keluarganya tidak menggubris wasiatnya maka ancaman yang diberitakan ‘Rasulullah Saw itu tidak akan diberlakukan kepadanya. Wallohu a’lam.

Kesembilan, tidak menjadi orang yang menebar permusuhan di kalangan manusia ( pengadu domba )
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذَّبَانِ فَقَالَ  إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ ، وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِى بِالنَّمِيمَةِ . ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا بِنِصْفَيْنِ ، ثُمَّ غَرَزَ فِى كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً . فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، لِمَ صَنَعْتَ هَذَا فَقَالَ  لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا
Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau melewati dua buah kubur yang penghuninya sedang diadzab. Beliau bersabda : “Kedua penghuni kubur ini sungguh sedang diadzab dalam kuburnya. Dan mereka tidak di adzab karena perkara besar. Adapun seorang di antara mereka tidaklah bersuci dari kencing. Sedang yang satunya, adalah mengadu domba ( menebar permusuhan ) di kalangan manusia.  ( HSR. Bukhori dan Muslim )

Kesepuluh, menjaga Al-Qur’an dan tidak melalaikan sholat wajib.
Dari Samuroh bin Jundab rodhiyallohu ‘anhu, dari Rasulullah Saw ( dalam hadits yang panjang ) ;
..أَمَّا الرَّجُلُ الأَوَّلُ الَّذِى أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُثْلَغُ رَأْسُهُ بِالْحَجَرِ ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَأْخُذُ الْقُرْآنَ فَيَرْفُضُهُ وَيَنَامُ عَنِ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ
Adapun orang pertama yang engkau datangi yang remuk kepalanya dengan batu adalah orang yang membaca Al Qur’an lalu ia tidak mengamalkan isinya dan tidur di kala waktu shalat wajib ( melalaikannya ) HSR. Bukhori no. 7047

Kesebelas, tidak menjadi penebar kedustaan ( kebohongan ) di tengah-tengah masyarakat. Apalagi menjadi penebar kedustaan dengan kemasan agama seperti para penyebar hadits-hadits palsu atas nama Rasulullah Saw untuk menguatkan faham, amalan dan eksistensi kelompoknya.
..وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِى أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلَى قَفَاهُ ، وَمَنْخِرُهُ إِلَى قَفَاهُ ، وَعَيْنُهُ إِلَى قَفَاهُ ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ فَيَكْذِبُ الْكَذْبَةَ تَبْلُغُ الآفَاقَ
Adapun orang yang engkau datangi sedang digergaji mukanya hingga mulut, tenggorokan dan matanya tembus ke tengkuknya adalah orang yang keluar dari rumahnya lalu berdusta dengan kedustaan yang tersebar ke pelosok. HSR. Bukhori no. 7047

Kedua belas, menjauhi perbuatan zina
وَأَمَّا الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ الْعُرَاةُ الَّذِينَ فِى مِثْلِ بِنَاءِ التَّنُّورِ فَإِنَّهُمُ الزُّنَاةُ وَالزَّوَانِى
Adapun lelaki dan wanita telanjang yang berada di atas tungku api maka mereka adalah para pezina ( orang yang berhubungan badan tanpa ikatan nikah yang sah menurut Islam ) HSR. Bukhori no. 7047

Ketiga belas, tidak memakan riba.
وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِى أَتَيْتَ عَلَيْهِ يَسْبَحُ فِى النَّهَرِ وَيُلْقَمُ الْحَجَرَ ، فَإِنَّهُ آكِلُ الرِّبَا
Adapun orang yang engkau datangi sedang berenang di sungai dan dijejali batu maka ia adalah pemakan riba. HSR. Bukhori no. 7047

Keempat belas, memohon perlindungan kepada Alloh dari adzab Neraka dan adzab kubur ketika tasyahud akhir di dalam sholat.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ ».
Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu ia berkata : Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika salah seorang di antara kalian bertasyahud maka berlindunglah dari empat perkara dengan mengucapkan : “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab Jahannam, adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian dan kejahatan fitnah Dajjal” ( HSR. Muslim no. 1361, dalam hadits lain disebutkan bahwa tasyahud di maksud adalah tasyahud akhir lihat HSR. Muslim no. 1354 )
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ ».
Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu ia mengatakan : Rasulullah Saw bersabda ; “Jika salah seorang di antara kalian selesai bertasyahud akhir maka berlindunglah kepada Alloh dari empat perkara ; dari adzab Jahannam, adzab kubur, fitnah kehidupan dan kematian dan fitnah kejahatan Dajjal.” (  HSR. Muslim no. 1354 )

Seorang mayit akan diperlihatkan padanya bakal tempat tinggalnya (di neraka atau di surga) setiap pagi dan sore

Dari ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah Saw bersabda :

“Jika salah seorang di antara kalian meninggal, maka akan ditampakkan padanya bakal tempat tinggalnya pada waktu pagi dan sore hari. Jika ia termasuk penghuni surga, maka bakal tempat tinggal yang ditampakkan adalah surga, namun jika ia termasuk penghuni neraka, maka bakal tempat tinggal yang akan ditampakkan padaya adalah neraka. Lalu dikatakan padanya, ‘Inilah tempat tinggalmu sampai Allah membangkitkanmu pada hari kiamat’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Peristiwa dahsyat menjelang hari kiamat

Tanda – tanda hari kiamat

Adapun waktunya, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Dia berfirman :

“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Sesungguhnya yang mengetahui waktunya hanya Allah’.” (Al-A’raf : 187)

Dan di dalam hadits panjang tentang kisah Jibril, ia (Jibril) bertanya, “Kabarkan kepadaku tentang waktu terjadinya hari kiamat.” Maka Rasulullah Saw menjawab, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”. Ia bertanya lagi, “Kalau begitu, jabarkan kepadaku tentang tanda-tandanya”. Beliau Saw bersabda. “Ketika seorang budak sudah melahirkan tuannya, ketika kamu sudah melihat orang-orang yang telanjang kaki dan kepala, yaitu para penggembala kambing saling berlomba-lomba di dalam bangunan”. Di dalam riwayat lain, “Jika kamu sudah melihat seorang perempuan yang melahirkan tuannya. Itulah diantara tanda-tandanya. Dan jika Anda sudah melihat orang-orang yang bertelanjang kaki dan kepala yang bisu lagi tuli menjadi penguasa-penguasa di bumi. Itulah diantara tanda-tandanya.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda : “Hari kiamat tidak akan datang sehingga : 1. Dua golongan besar berperang. Di antara keduanya terjadi pertempuran dahsyat, sedangkan penyebabnya sama. 2. Keluarnya para Dajjal yang jumlahnya hampir mencapai 30 orang, masing-masing menyerukan bahwa dirinya adalah utusan Allah. 3. Dicabutya ilmu, banyak terjadi gempa dan semakin dekatnya waktu serta munculnya fitnah-fitnah dan banyak terjadi pembunuhan. 4. Melimpahnya harta, sehingga orang kaya yang sudah wajib mengeluarkan zakat kebingungan mencari orang yang berhak menerimanya (karena semuanya sudah kaya), sampai-sampai mereka pun menawarkan hartanya. Namun orang yang ditawari hartanya malah  mengatakan, ‘Saya tidak akan menerima harta itu”. 5. Manusia berlomba-lomba meninggikan bangunan. 6. Ketika ada seorang laki-laki yang melewati sebuah kuburan, ia akan mengatakan, ‘Ah, seandainya aku yang berada di dalam kubur itu’. 7. Matahari terbit dari sebelah barat. Maka ketika matahari terbit dari sebelah barat dan semua manusia dapat melihatnya. Hal itu terjadi ketika, ‘Tidak lagi berguna iman seseorang yang belum beriman sebelumnya, atau belum berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu’ (Al-An’an : 158). Hari kiamat benar-benar terjadi, sedangkan ketika itu ada 2 orang laki-laki yang membentangkan pakaiannya, namun mereka berdua sedang tidak menjualnya, dan juga tidak mau melipatnya kembali. Hari kiamat benar-benar terjadi, sedangkan ketika itu ada seorang laki-laki yang membawa susu yang memancar dari unta yang banyak susunya, namun orang tersebut tidak mau meminumnya. Hari kiamat benar-bernar terjadi, sedangkan ketika itu ada seorang laki-laki yang memperbaiki telaganya, namun ia tidak mau memberikan airnya untuk diminum orang lain. Hari kiamat benar-benar terjadi, sedangkan ketika itu ada seseorang yang sudah mendekatkan makanannya ke mulutnya, namun tidak jadi dimakannya.” (HR. Bukhari)

Terhapusnya islam dan hilangnya Al-Qur’an

Dar Hudzaifah Ibnul Yaman ra, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda:

“Islam akan hapus (hilang) sebagaimana lunturnya warna baju sehingga seseorang tidak mengetahui lagi apa itu sholat, apa itu puasa, apa itu berkurban (berhaji), dan apa itu zakat. Dan akan ada seseorang yang berjalan di malam hari dengan membawa Al-Qur’an, lalu tidaklah tersisa dari Al-Qur’an tersebut kecuali satu ayat. Dan yang tersisa dari kelompok manusia adalah orang-orang tua dan orang-orang lemah yang mengatakan, ‘Kami mengetahui kalimat ‘Laillaha illallah’ dari bapak-bapak kami, lalu kami pun mengucapkannya’. Kemudian Shilah berkata, ‘Lalu apa gunanya syahadat mereka jika mereka tidak mengetahui shalat, puasa, haji dan zakat?’ Maka Hudzaifah pun berpaling dari Shilah, namun Shilah terus saja mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali. Dan setiap kali ditanya, Hudzaifah selalu berpaling. Kemudian beliau bersabda kepada Shilah dan berkata, ‘Wahai Shilah, kamu telah menyelamatkan mereka sebanyak tiga kali.’ (HR. Ibnu Majah)

Bersambung >>>>

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: