Beranda > Catatan perjalanan > Billitone Island

Billitone Island


Ini adalah kali pertamanya saya berpetualang. Sebuah tempat yang indah di sebelah seberang timur pulau Sumatra. Tempat yang masih jarang dikunjungi banyak orang. Barangkali penduduknya pun hanya sepertiga kota Jakarta. Perjalanan saya terinspirasi dari kisah nyata yang dituangkan dalam novel berjudul “Laskar Pelangi” buah karya Andrea Hirata. Sebuah novel yang menggugah hati dan semangat saya tentang arti sebuah hidup dan perjuangan. Imajinasi pun semakin menguat ketika novel dengan buku pertamanya “Laskar Pelangi”  tersebut dituangkan ke dalam sebuah film layar lebar. Indah memang, walau mungkin tak seindah cerita dalam novel. Namun suasana bahagia dan haru masih kental saya rasakan. Keelokan alam yang menawan nan cantik lah yang menguatkan langkah ini untuk berangkat ke sebuah pulau di dalam novel tersebut. Billitone, begitu orang menyebutnya dahulu pulau Belitung. Lukisan alam yang begitu luar biasa yang Tuhan persembahkan di bumi Belitung. Pulau yang ramah dengan pantai sebagai Objek Wisata pulau tersebut.

Hasrat ingin berpetualang pun semakin kuat ketika beberapa hari sebelum keberangkatan, saya sempat menonton film yang berjudul “Sang Pemimpi” yaitu sebuah film yang diangkat dari novel kedua lanjutan dari buku Laskar Pelangi. Sebuah kisah yang sangat inspiratif dan sangat menggugah selera.

25 Desember 2009,

Adalah hari pertama keberangkatan saya menuju pulau Belitung dan pertama kalinya naik pesawat😀, ketika itu saya berangkat dengan seorang teman semasa kuliah dahulu yang kini satu kantor dengan saya. Kami begitu semangat dan antusias sekali mengabadikan setiap moment dari mulai berangkat hingga sampai tujuan. Bahkan teman saya pun mengabadikan rekaman video pada saat pesawat berada di atas.

45 menit lama perjalanan dari Jakarta ke Belitung. Tidak selama perjalanan Jakarta-Bandung yang biasa ditempuh dalam waktu 2-3 jam. ( maklum baru pertama kali naik pesawat…hehehee😀 ). Sesampainya di Belitung, tepatnya di Bandara Hanandjoeddin  kami di jemput oleh seorang kawan asli Belitung yang pernah satu kampus di Bandung dahulu. Tak berlama-lama kami pun di ajak langsung menuju rumahnya di sebuah daerah yang bernama Tanjung Pandan. Kami pun di sambut dengan sangat hangat dan ramah oleh keluarganya. Perasaan bahagia dan senang menyelimuti diri ini ketika pertama kali menapakkan kaki di tanah atau lebih tepatnya pasir di Belitung. Karena hampir semua daratannya dipenuhi oleh pasir pantai termasuk  halaman rumah teman saya ini. Sesampainya di rumah sekitar pukul 11 siang, kami langsung bergegas membersihkan diri  bersiap-siap melaksanakan ibadah sholat Jum’at. Ba’da sholat Jum’at, saat itu yang terlintas dalam benak saya hanya “Pantai”, namun apa daya hujan pun turun dengan lebat hingga menjelang Magrib. Akhirnya kami putuskan untuk istirahat hari itu. Tetapi karena hasrat ini begitu kuat ingin melihat pantai akhirnya kami pun pergi menuju pantai Tanjung Pendam, pantai yang paling dekat dengan rumah yang dapat ditempuh dalam waktu 10 menit menggunakan motor. Gelap memang, laut pun tidak dapat kami lihat karena saat itu kami berkunjung di malam hari sekitar jam 8 malam. Alhasil kami pun menghabiskan waktu di taman depan pantai tersebut.

26 Desember 2009,

Pagi yang indah nan sejuk dihiasi butir air yang tertahan pada dedaunan. Ahh, segar ku hirup udara saat itu. Dengan penuh semangat kami pun berangkat menuju pantai Tanjung Pendam yang semalam belum sempat kami nikmati keindahannya. Subhaanallah, kalimat tasbihlah yang pertama kali terucap saat kami melihat pantai itu. Pantai yang cukup indah dengan rimbunnya pohon yang tumbuh di sekitarnya serta taman bermain, lapangan futsal, Souvenir Outlet menggambarkan pantai ini banyak dikunjungi oleh para wisatawan atau pun warga sekitar. Tak lama kami di pantai ini, hanya sekadar mengumpulkan kerang-kerangan.

Sejenak kami pun beristirahat memejamkan mata diiringi gemericik bunyi hujan yang cukup lebat. Memang, waktu itu kami berkunjung di saat sedang musim hujan. Namun kami berharap dan berdoa agar kami mampu mengunjungi semua pantai di penjuru pulau Belitung yang memungkinkan untuk kami kunjungi.

First unforgettable moment

Hujan saat itu masih turun dengan derasnya, sekilas raut wajah kami agak masam karena kami hanya mampu menghabiskan waktu di rumah saja tanpa menikmati pantai. Namun ketika itu, Ayah teman kami mengajak kami untuk mengunjungi pantai Tanjung Tinggi dengan mengendarai sebuah mobil walau saat itu hujan cukup deras kurasa. Mungkin beliau dapat meraba perasaan kami yang saat itu diam termangu memandangi lebatnya hujan. Namun, yesss😀 kami sangat senang dan girang mendengar tawaran tersebut. Bergegas kami pun pergi meluncur menggunakan mobil menuju pantai Tanjung Tinggi dimana pantai tersebut adalah pantai yang digunakan sebagai latar alam pada film “Laskar Pelangi” dan “Sang Pemimpi”. Selama perjalanan saya memperhatikan jalanan di kanan kiri saya masih sangat luas dan hijau. Rumah pun tersusun rapi dengan jarak yang cukup jauh dari satu rumah ke rumah yang lain. Suasana kehidupan yang sangat sepi dan hening sekali. Tidak seperti kehidupan di Jakarta yang padat dan semrawut. Bahkan saya perhatikan di sana tidak ada bangunan tinggi seperti hotel, bioskop bahkan mall sekalipun. Dan satu catatan lagi, transportasi darat di Belitung terbilang sangat sulit, karena memang angkutan umum sangat jarang bahkan hampir tidak ada. Saya hanya menemukan satu jurusan angkutan umum, yaitu dari pasar hingga ke kota Tanjung Pandan. Saya bergumam dalam hati, “Seandainya saya tidak punya teman di Pulau Belitung, apa yang harus saya gunakan untuk berpergian sementara objek wisata yang di tuju terbilang cukup jauh,…ah untung ada temanku yang bisa kami pinjam sepeda motornya untuk digunakan berpergian”. Sesampainya di sana kami pun disuguhkan dengan nuansa alam yang begitu indah dan cantik. Subhaanallah, kembali kalimat tasbihlah yang pertama kali terucap. Pantai yang begitu menawan dengan batu-batu granit yang terpampang besar di tepi pantai dan beberapa di tengah laut. Batu yang saya pikir hanya sebesar pada umumnya, namun kali ini saya melihat batu itu seperti dinosaurus, besar sekali bahkan sampai melebihi besar rumah yang terbesar. Subhaanallah. Walau saat itu hujan masih belum berhenti, kami turun dan berlari menuju pantai lalu kami pun berenang di sekitar pantai yang hijau itu. Semangat dan kepuasan mengalahkan rasa dingin akibat cuaca. “Allah, Engkau begitu luar biasa menciptakan alam seindah ini” kalimat itulah yang terbesit dalam hati. Setelah puas berenang kami pun makan di sebuah rumah makan sekitar pantai. Kami disuguhkan dengan makanan Seafood yang sangat khas sekali dan belum pernah saya cicipi. Emmm, sedap sekali memang makanan laut, maknyossss😀. Tak lama kemudian hujan pun mulai reda. Kami coba turun kembali mengitari pantai memuaskan diri meskipun hembusan angin sore membuat bulu kuduk ini berdiri dan menggigil. Ketika saya sedang duduk di sebuah batang pohon kelapa yang telah mati, saya melihat ada sekelompok orang sedang melakukan pemotretan. Waktu itu saya pikir mereka adalah warga sekitar yang sedang berfoto-foto, namun ketika saya lihat dengan lebih teliti, saya serasa mengenal salah seorang sosok pria yang sangat familiar diantara mereka. Semakin lama saya perhatikan, rambutnya yang ikal dengan ikat kepala dan postur tubuhnya yang agak gemuk pendek, semakin meyakinkan bahwa saya mengenal wajahnya. Ya ternyata benar, ANDREA HIRATA penulis buku Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Subhaanallah, ternyata saya bisa bertemu dengan beliau di kampung kelahirannya. Sungguh hadiah yang sangat luar biasa. Sontak saya pun bangun dari duduk dan menghampiri beliau seraya menjabat tangannya dan berfoto. Walau badan dan kepala bermandikan pasir pantai, malam itu kami pulang dengan membawa senyum lebar tanda bahagia ^____^.

27 Desember 2009,

Hari ke-3 kami berada di Belitung, masih dengan semangat yang membara dan senyuman yang lebar. Hari itu kami bangun lebih pagi untuk memburu objek pantai berikutnya. Kali ini adalah Pulau Lengkuas. Pulau yang luasnya tidak lebih dari 1 hektar yang terletak di sebelah barat pulau Belitung. Banyak orang bilang pulau Lengkuas adalah pulau terindah yang ada di Belitung. Pulau dengan mercusuar peninggalan zaman Belanda yang menjulang tinggi. Saat itu kami berangkat menggunakan motor menuju Tanjung Binga, yaitu tempat dimana kita akan melakukan perjalanan ke pulau Lengkuas menggunakan perahu boat. Ada cerita yang cukup unik ketika kami melakukan perjalanan dari rumah menuju Tanjung Binga. Ketika sedang mengendarai motor, tiba-tiba turun hujan yang cukup lebat. Saat itu saya tidak membawa jas hujan untuk melindungi badan ini dari hujan. Lalu kami memutuskan untuk berhenti sejenak di tengah perjalanan untuk berteduh. Namun karena masalah waktu dan kami pun sudah punya janji dengan rombongan lain yang kami kenal saat di bandara untuk berangkat bersama menuju pulau Lengkuas, maka kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami. Saat itu saya punya sebuah kantong plastik besar (kantong plastik sampah) yang masih baru, karena hujan saat itu cukup lebat, maka saya menggunakan plastik “sampah” tersebut sebagai pengganti jas hujan🙂. Sesampainya di Tanjung Binga kami pun segera menuju ke perahu boat yang telah kami sewa seharga 400rb rupiah selama setengah hari. Harga yang cukup mahal jika kami harus membayarnya bertiga, untung saja kami bergabung dengan rombongan lain sehingga jumlah kita menjadi 10 orang🙂.

Heaven of world,

Perjalanan kami dari Tanjung Binga menuju pulau Lengkuas menghabiskan waktu kurang lebih 45 menit, percis dengan waktu perjalanan Jakarta – Belitung. Sepanjang perjalanan kami menikmati pemandangan alam yang tidak pernah saya lihat sebelumnya, yaitu tumpukan batu-batu besar yang berada di tengah-tengah laut. Seolah ada yang meletakkannya dengan sengaja di sana. Tapi saya pikir memang ada yang sengaja meletakkannya, yaitu Allah yang Maha Besar dan Perkasa. Dari kejauhan saya melihat ada mercusuar yang menjulang tinggi di tengah pulau, tak sabar rasanya ingin segera menepi ke tepi pulau. Ketika hampir sampai beberapa meter dari pulau, Subhaanallah air laut yang kami lihat berwarna hijau bersih dan jernih seolah ada yang selalu menguras air laut ini agar tetap jernih. Tak lama kemudian sampailah kami di tepi pulau Lengkuas. Kali ini tak hanya kalimat tasbih yang terucap, Takbir, Tahmid pun aku gemakan. ALLAHU AKBAR, ALHAMDULILLAH, SUBHANALLAH. Allah Maha Suci Engkau yang menciptakan surga di bumi Belitung ini. Sungguh pemandangan yang terlalu indah untuk dilukiskan. Pasirnya yang putih menandakan keasrian dari pulau ini, lautnya yang bening dan karang-karang indah menujukkan keramahan pulau tersebut. Sontak saya pun turun dari perahu dan berlari mengitari pulau tersebut seraya meneriakkan takbir. Senyum bahagia ini kembali mengembang merasakan kehangatan dan ketentraman di dalam jiwa. Allah Engkau ciptakan keindahan ini dengan beribu warna dan bentuk. Subhaanallah😀. Batin ini mengatakan “Aku ingin selamanya berada di dalam ketenangan ini bersama pulau Lengkuas”. Barangkali ini adalah pantai terindah yang pernah saya kunjungi  diantara pantai-pantai lainnya. Kami menghabiskan waktu di Pulau Lengkuas hingga siang hari, mulai dari menaiki mercusuar hingga melakukan snorkling. Ini adalah kali pertamanya saya melakukan snorkling, yaitu berenang dengan posisi kepala berada di dalam dengan bantuan alat snork untuk pernapasan. Pemandangan bawah laut memang lebih indah, tak pernah bosan kami untuk terus berenang dan menyelam. Walau kami pulang dengan membawa banyak sayatan pada tubuh akibat goresan tiram-tiram di laut, namun luka tersebut di balut oleh rasa senang, bahagia dan puas. Lengkuas oh Lengkuas, we will miss you.

To be continue…

  1. Juli 19, 2010 pukul 3:55 pm

    waaahhh..bikin iri aja nih sang pejuang…:)

  2. Juli 20, 2010 pukul 1:38 pm

    hehehee…..

    Kalo inget Belitung inget Bahagia dan Senyum tie🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: