Beranda > Renungan > Maafkan dan Lupakan . . .

Maafkan dan Lupakan . . .


Marah, perih, kesal dan dendam. Mungkin itulah segelintir perasaan yang sering dirasakan orang ketika mengalami pengkhianatan, di sakiti atau di lukai entah itu oleh seorang sahabat, pasangan atau bahkan oleh seorang musuh sekalipun. Gejolak nafsu yang awalnya padam pun seolah menyala dan menyulut api kemarahan. Kesalahan yang orang lain timpakan kepada kita  terkadang tidak mudah bagi kita untuk memaafkannya. Apalagi ketika hawa nafsu sudah mulai merasuki dan menguasai diri. Barangkali tak hanya kata-kata umpatan dan cacian saja yang terucap oleh lisan, tetapi kontak fisik pun dapat terjadi yang berakibat saling bunuh.  Begitulah fenomena manusia saat ini yang tidak mampu mengendalikan hati dan akal pikirannya agar tetap jernih.

Teringat akan sebuah kisah yang pernah saya baca dari sebuah artikel mengenai kisah persahabatan antara dua insan. Ketika salah seorang anak (sebut saja Ali), selalu mengabadikan apa yang terjadi antara dirinya dan sahabatnya  (Ahmad) dengan menulis di media yang ada di alam. Barangkali kalau zaman sekarang orang banyak mengabadikan setiap kejadian dengan menulisnya di buku, binder dan blog yang kita kenal dengan buku harian. Saat itu Ali dan Ahmad berjalan di tengah padang pasir pergi ke sebuah kota yang di tuju. Di tengah perjalanan mereka berdua bertengkar mendebatkan sesuatu hingga Ahmad menampar pipi Ali dengan tangannya. Saat itu hati Ali merasa sakit atas perlakuannya sahabatnya. Namun tanpa berkata-kata, Ali menuliskan di atas pasir; ‘Hari ini sahabat terbaik ku menamparku’. Mereka pun terus berjalan sampai menemukan sebuah oasis dan memutuskan untuk mandi. Kemudian Ali pun mencoba untuk berenang ke tengah-tengah oasis namun nyaris tenggelam. Ahmad pun segera menolong Ali yang hampir tenggelam di tengah oasis. Ali pun terbangun dari pingsannya dan tanpa rasa takut mengambil sebuah batu kecil lalu menggoreskannya di sebongkah batu besar seraya menulis; ‘Hari ini sahabat terbaik ku menyelamatkan nyawaku’. Kemudian dengan sedikit heran Ahmad pun bertanya kepada Ali “Wahai Ali, mengapa kau tadi menulisnya d atas pasir dan sekarang kau menulisnya di batu?”. Sambil tersenyum Ali pun menjawab “Ketika seorang sahabat melukai  kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar  biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar  tidak bisa hilang tertiup angin.”

Dalam sebuah kehidupan sering kita mengalami konflik dan beda pendapat dengan orang lain, pasangan, sahabat karena sudut pandang yang berbeda. Belajarlah untuk memaafkan kesalahan orang lain karena ada banyak hikmah dan manfaatnya yang jauh lebih besar yang akan kita dapatkan. Sebagaimana Rasulullah pun pernah memaafkan pembunuh pamannya yang amat beliau cintai yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib yang syahid pada saat perang Uhud. Walaupun hati beliau sangat sedih dan merasa kehilangan tetapi tidak berarti menjadi gelap mata dan kehilangan emosinya. Buah dari kesabarannya, banyak orang-orang yang tadinya memusuhi berbalik menjadi pengikutnya yang setia.

-mimpi pejuang-

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: