Beranda > Renungan > Kita adalah tanaman itu

Kita adalah tanaman itu


Pagi itu adalah saat bahagia ketika raga ini merasakan kembali kesejukkan udara yang berhembus menyapa lembut jasad ini. Hijau daun yang lebat dan butir air yang menghiasinya, mempercantik nuansa alam saat itu. Maha Suci Allah yang menciptakan alam semesta dan segala isinya. Seraya memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam, berharap saat itu saya bisa selamanya berada di Bandung tinggal bersama orang tua dan sanak saudara. Namun,…..ah saya rasa itu cuma khayalan belaka, tak selamanya segala keinginan dapat terpenuhi tanpa ada kehendak dari-Nya yang menguasai perputaran waktu kehidupan.
Ketika itu saya sedang duduk di teras pekarangan rumahku yang cukup rimbun oleh pohon dan tanaman-tanaman. Sejenak saya memperhatikan tanaman-tanaman itu dengan seksama, ada yang tumbuh dengan cantik dan segar seolah-olah ia menjadi ratu para tanaman itu, lalu ada tanaman yang tumbuh merambat seolah mencekik tanaman lain, bahkan ada pula tanaman yang terlihat ganas dengan duri-duri di dahannya. “Mengapa demikian?” Gumam saya. Ya saya pikir memang demikian, karena kita memang sengaja menanam benih itu. Benih yang kita tanam akan menghasilkan apa yang kita tanam. Ketika kita menanam benih anggrek maka akan tumbuh anggrek, ketika kita tanam benih kaktus maka akan tumbuh kaktus. Terlintas di benak saya bahwa perilaku manusia pun ibarat tanaman itu. Apa yang kita berikan untuk orang lain maka itulah yang akan kita dapatkan.

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri….(QS.Al-Isra:7)

Maka apa yang kita dapatkan saat ini adalah buah dari apa yang kita perbuat saat itu. Ketika kita mendapatkan sebuah rizki yang tak terduga dari Allah, sempatkah kita terpikir bahwa kita mendapatkannya karena suatu amalan? Entah itu ketika kita menolong orang yang sedang dalam kesulitan, atau apakah itu dari amaliyah sedekah kita, ataukah amalan shaum sunnah dll. Mungkin juga ketika kita tertimpa musibah, sempatkah kita bertanya pada diri kita, apakah ini terjadi akibat amalan buruk kita terhadap seseorang, ataukah karena sifat takabur kita kepada Allah dll?
Maka yang perlu kita yakini dan renungi saat ini adalah sejauh mana kita sudah melakukan kebaikan, dan sebesar apa pula kita sudah melakukan keburukan. Karena kita ibarat tanaman itu.

Hikmah yang bisa saya ambil dari renungan ini adalah memahami bahwa sebuah tindakan yang kita berikan kepada orang lain, maka itu pula lah yang akan kita terima saat itu atau di masa mendatang. Semoga kita senantiasa istiqomah dalam melakukan kebaikan untuk orang lain sekecil apapun itu, karena Allah lah yang menilai besar kecilnya pahala.

Karena setiap detik begitu berharga, marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan

-mimpi pejuang-

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: